Diantara Senja dan Senyum Manismu
Diantara senja dan senyum manismu
Aku merangkai bintang dalam kelabu
Agar ketika datang malammu
Gelap tak akan menutupi lesung pipimu
Diantara senja dan senyum manismu
Aku menggenggam mendung yang menggerutu
Agar lelapmu
Hangat dalam pelukku
Diantara senja dan senyum manismu
Aku petik bulan yang sedang malu-malu
Kedepan matamu
Agar terang bulan mulai tahu
Di bumi, ada yang menyerupai sinarnya. Yaitu wajahmu
Diantara senja dan senyum manismu
Kutempatkan diriku pada doa-doa terbaikmu
Semoga diriku dan dirimu
Bersanding di hari-hari bahagiamu
*****
Makassar. 15 November 2019
------
Pujaaan
Bait-bait yang kutulis
Berasal dari segala pengharapan
Tentang sebuah masa yang berisi bunga-bunga indah bermekaran
Bait-bait yang kutorehkan
Berasal dari segala pengaduan
Tentang pendambaan untuk dipertemukan tulang rusuk yang hilang
Bait-bait yang kuciptakan
Berasal dari segala pembahasaan
Tentang kalimat-kalimat yang kata-katanya bermakna kasih sayang
Bait-bait yang kugoreskan
Berasal dari segala penghambaan
Tentang makhluk yang bersyukur diciptakan dengan cinta oleh Tuhan
Untukmu..
Pujaaan
*****
Makassar. 16 November 2019
-------
Apakah Kau Pernah Rindu?
Telah kukabari
Aku ingin pergi
Pergi untuk kembali
Tapi apakah kau menunggunya?
Menunggu sebuah belati yang tercipta
Dari rindu setiap hari menyiksa ini
Apakah kau pernah rindu?
Pernahkah
Pernahkan kau merasakan kegetiran tanpa ketakutan
Penantian tanpa rasa bosan?
Kejenuhan tanpa sebuah pertanyaan?
*****
Makassar. 16 November 2019
------
Kuharap Kau Juga Membacanya
Bait-bait cinta
Tak pernah bisa selesai kueja
Tahun-tahun yang akan datang
Akan tetap sama:
Seorang penyair yang selalu mendaras
Sabda cinta
Aku bukan budaknya
Aku kekasihnya
Kuharap kau juga membacanya
Itu saja.
*****
Makassar. 20 November 2019
------
Jika Bibit Padi Kutebar di Senyummu
Jika bibit padi kutebar di senyummu
Tak seorang pun yang percaya
Ada ladang yang tidak memerlukan sinar matahari
Jika bibit padi kutebar di senyummu
Tikus-tikus heran
Rerumputan jadi batang-batang tebu
Kapan bibit padi itu kutebar?
Pertanyaanku terdiam
Di bibirku yang kering ditanduskan penantian
*****
Makassar. 21 November 2019
-------
Mencintaimu Semakin Meyakinkanku Untuk Tidak Menjadi Daun yang Harus Kalah dengan Kekeringan
Mencintaimu.
Adalah menjadi akar
Bertumbuh
Bercabang
Berbatang
Dan bermekaran
Mencintaimu.
Adalah menjadi pepohonan
Beranting
Berkecamba
Berbuah
Dan berdedaunan
Mencintaimu.
Berartinya aku
Terus belajar
Menjadi bagian dari kesejukan
Dan untuk itulah
Mencintaimu semakin meyakinkanku untuk tidak menjadi daun yang harus kalah dengan kekeringan
*****
Makassar. 21 November 2019
-------
Untuk Matamu yang Belum Terlelap
Terlelaplah kekasih
Dunia belum semengerikan yang kau kira
Malam masih dihiasi bintang
Dan esok hari
Fajar masih elok membentang
Terlelaplah kekasih
Dunia belum sejahat yang kau kira
Senyum-senyum tulus anak-anak desa masih ada
Petani yang bekerja tanpa lelah untuk keluarganya masih bisa tertawa legah
Untuk matamu yang belum terlelap
Terlelaplah,
Dan mimpikan aku
Sedang berada di antara anak-anak desa
Dan para petani yang bekerja tanpa lelah
Agar kau bisa melihatku juga
Tersenyum tulus dan tertawa legah
Untuk semua kebahagiaan kita
******
Makassar. 21 November 2019
-------
Kubiarkan Sang Waktu Terus Berlalu dan Mengenalkannya Padamu
Kita tak pernah sama-sama tahu
Sedang berada di mana hati kita
Kan berlabu
Di antara ujung ombak kah?
Di antara bibir pantai kah?
Di antara curam batu karang kah?
Yang jelasnya
Yang kutahu
Hati kita pasti akan menuju
Ke pelangi tanpa awan kelabu
Dan kubiarkan sang waktu terus berlalu
Dan mengenalkannya padamu
*****
Makassar. 22 November 2019
------
Menantimu di lautan
Kunanti dirimu
Serupa ombak yang terus bergelombang ke ujung pantai
Serupa teguh layar perahu nelayan
Serupa sabar seorang istri yang merisaukan suaminya bertarung ditengah badai samudera
Kutunggu kau datang
Secepatnya;
Tanpa gemuruh petir lagi
Tanpa pekat mendung lagi
Tanpa sunyi dini hari
Datanglah
Kunanti dirimu di lautan
Sebab peluk kita memang bagailah batu karang
Banyak terpaan
*****
Makassar. 24 November 2019
-----
Tidak Cukup Hanya Pertanyaan
Tanyakanlah padaku tentang kesetiaan
Maka akan kuteteskan air mata bumi kepada tumbuh-tumbuhan
Tanyakanlah padaku tentang kasih sayang
Maka akan kuberi hangat lilin kepada lautan yang dipeluk tengah malam kesunyian
Tanyakanlah padaku arti cinta yang penuh ketulusan
Maka akan kualirkan sejuk embun di kelopak bunga melati yang ketika pagi datang--telah menghilang
Tidak cukup hanya pertanyaan
Sediakan saja kehadiran
Maka akan kuubah kedua bola matamu
Menjadi siang dan malam
*****
Makassar. 24 November 2019
-----
Menyayangimu Telah Membuatku Terlahir Sebagai Sehembus Udara
Rasa sayangku
Diam tak bersuara
Menjelmakan diri sebagai hening di bawah telapak-telapak bintang yang baru saja melihat indah malam
Diam tak bergerak
Menyerupakan wajah melihat senja tenggelam di dermaga samping pantai yang belum pernah didatangi manusia
Rasa sayangku
Menemanimu dalam diamku
Menyapamu
Sebagai hal yang tak pernah disentuh helai-helai rambutmu
Ia yang meniupmu
Ia yang memberi kecup pelan di pipi kirimu
Ia yang kau hirup sebelum seduh kopimu
Akulah sehembus udara itu
Yang hadir, masih, dan terus menyayangimu
******
Makassar. 24 November 2019
------
Menghafal Namamu
Namamu adalah ingatan tentang pertemuan bulan dan malam
Namamu adalah hujan yang kemarin sore datang
Namamu adalah genangan air yang tak keruh di ujung jalan
Namamu adalah penjelasan alam
Pengertian dari keindahan dan
Maksud dari ketentraman
Kuhafal namamu
Sebab telah tertulis di petak-petak kehidupan
Yang kusatukan dalam cinta tak berakhiran
*****
Makassar. 25 November 2019
-----
Peringatan Cinta
Cinta telah memperingatiku untuk menjadi bunyi bagi sepimu
Untuk menjadi tarian bagi diammu
Untuk menjadi seni bagi abstraksimu
Saat dinihari tiba
Aku meniup seruling dalam kesendirianmu
Jadilah dirimu nada dalam lagu
Saat keesokan harinya tiba
Aku menggerakkan bunga-bunga dalam keheninganmu duduk termangu
Jadilah dirimu perayaaan indah alam yang terus bergemuruh
Sesampainya senja tiba
Aku melukis pendar cahayanya ke semua tanyamu tentang dunia
Jadilah dirimu karya yang sudah terjawab makna-makna warnanya
*****
Makassar. 25 November 2019
------
Bukan Sebaik-baiknya Pilihan, Tapi Tempatmu Merasakan Mata Air Kesetiaan
Jangan mencintaiku
Karena untuk sebuah pilihan dan kebaikan
Karena sepilih-pilihnya lebah-lebah menghisap sari pati bunga
Ada ekor tajam yang setiap saat bisa saja menyengat
Karena sebaik-baiknya pepohonan untuk meneduhkan,
Ada rantingnya yang sebentar lagi terpatahkan
Aku memang bukanlah kebaikan ataupun pilihan
Untuk cintamu yang telah lama sendirian
Namun aku adalah tempatmu merasakan mata air kesetiaan
Untuk hidupmu mensucikan segala kebahagiaan
Dari luka yang selalu diiris zaman
*****
Makassar. 26 November 2019
-----
Menjadi Suatu Harimu
Suatu hari
Dirimu adalah kebersamaan burung merpati
Yang mengepakkan sayapnya di pohon-pohon rindang
Suatu hari
Dirimu adalah kerinduan awan
Yang menunggu hujan untuk ia rintikkan di atas lautan yang tenang
Suatu hari
Dirimu adalah kenangan bayang-bayang malam
Yang mengingat-ingat bulan di ujung langit kelam
Dan aku menjadi pelukan
Yang menyatukan
Kebersamaan
Kerinduan
Kenangan
Dalam satu kesetiaan yang tak berkesudahan di hamparan alam
*****
Makassar. 26 November 2019
------
Engkau Tak Tahu Kita Kekasih Tentang Puisi
Sebanyak apapun bait-bait puisi yang engkau baca
-
Engkau tak tahu kekasih tentang puisi
Jika engkau membacanya dengan denyut hati
Yang tak yakin akan rimanya
Sebanyak apapun bait-bait puisi yang engkau baca
-
Engkau tak tahu kekasih tentang puisi
Jika engkau mengeja hurufnya dengan bibir
Yang diam akan maknanya
Sebanyak apapun bait-bait puisi yang engkau baca
-
Engkau tak tahu kekasih tentang puisi
Jika engkau melafalkannya dengan suara
Yang sendu akan artinya
Engkau tak tahu kekasih
"Sambil kututup kitab puisi, dan berlalu darimu, dan engkau terus mengejarku, dan kau tak peduli sejauh apapun itu, tak lagi kau kenal lelahmu, semua karena cinta untuk menemukan jawaban atas setiap tanyamu."
-
Aku berhenti dan langsung memelukmu
"Terimakasih telah sejauh ini, dan sekarang engkau tahu tentang puisi, dan telah menjadi puisi."
*****
Makassar. 26 November 2019
-----
Nanti
Nanti,
Biarkan aku yang mengikat rambut panjangmu
Dan memperlihatkannya kepada bidadari
Bahwa rambut panjangnya tidaklah lebih panjang dari dirimu
Nanti,
Biarkan aku yang menyeka senyummu
Dan memperlihatkannya kepada mentari yang tak lama lagi ingin terbenam
Bahwa senyumnya tidaklah lebih memerah daripada senyummu
Nanti,
Biarkan aku yang mendongeng sebelum tidurmu
Dan memperlihatkannya kepada malam
Bahwa masih ada aku yang melawan kesunyian
Nanti
Suatu hari nanti
Semoga kau yakin tentang ini
*****
Makassar. 27 November 2019
-----
Janjiku Kepada Gerimis
Aku berjanji kepada gerimis
Untuk menjadi payung merahmu
Dan kau pegang diriku
Agar aku tak jauh-jauh darimu
Aku berjanji kepada gerimis
Untuk menjadi pelangi di akhir soremu
Dan kau tak ketakutan lagi akan mendung yang dibuatnya
Agar dirimu tenang menikmati persiapan hujan di balik jendela
Aku berjanji kepada gerimis
Untuk menjadi api unggunmu
Dan bila hangat itu tak cukup bagimu
Masih ada pelukku
Yang siap sedia menghangatkanmu
Janjiku kepada gerimis
Ia tak akan menghampirimu
Dan melahirkan rindu
Di ujung matamu
******
Makassar. 28 November 2019
------
Beberapa Catatan Untukmu
Catatan pertama;
Jika aku seorang kutu buku
Yang kubaca hanyalah lembar-lembar kasih sayangmu
Yang setiap kalimat-kalimatnya kueja satu persatu
Dan kutafsirkan sebagai sentuh bibirmu
Catatan kedua;
Jika aku seorang penulis
Yang kutulis hanyalah semua definisi cantikmu
Yang setiap definisi menjelaskan kekuasaan Tuhan, telah menciptakan sosok makhluknya yang begitu indah bagiku
Catatan ketiga;
Jika aku seorang pengarang
Yang kukarang hanyalah imajinasi-imajinasi
Tentang kebahagiaan kita berseluncur di atas warna pelangi, terbang di antara awan-awan, dan mengitari hamparan-hamparan langit sore
Beberapa catatan untukmu
Dan catatan yang paling kumau
Adalah
Jika aku seorang penyair
Yang kupuisikan hanyalah rima dan nada doa-doaku tentangmu
Agar setiap kebahagiaanmu
Adalah makna dan arti,
Aku hadir untukmu
*****
Makassar. 28 November 2019
------
Sebuah Malam yang Membuat Kita Saling Bercerita
Sama seperti malam lainnya,
Malam ini. Hanya aku dan kamu saja
Dan kita saling bercerita:
Perihal kesunyian yang kau gelisakan
Perihal kesendirian yang kau takutkan
Perihal perpisahan yang tak kau inginkan
Aku tak menjawabnya
Aku hanya menunjukkanmu
Satu bintang di atas sana, yang masih tegar menaklukkan kesunyiannya
Sebab baginya, masih ada indah malam yang selalu bisa membuat terang cahayanya, walau ia sendirian
Dan satu bintang lagi di atas sana
Yang masih sabar menghadapi kesendiriannya
Sebab baginya, masih ada luas malam yang selalu bisa membawa kerlipnya kemana pun ia mau, walau ia sendirian
Serta satu bintang lagi di atas sana
Yang masih setia merawat perpisahannya dengan bulan
Sebab baginya, masih ada bentang malam yang bisa ia jalani untuk mendekatkan sebuah perpisahan, walau ia sendirian
Jadi tak usah kau gelisakan
Tak usah kau takutkan
Dan tak usah kau resahkan
Sebab bisa saja aku berwujud sebagai sang malam
*****
Makassar. 28 November 2019
-----


Tidak ada komentar:
Posting Komentar