Hanya Tangkainya
Kelopaknya telah layu kekasih
Tangkai yang kupegang ini,
Namun terimalah tanpa risih
Dan ciumlah sesuka hati
-
Jauh hari telah kutebar bibitnya untukmu
Kutanam, dan terus kutunggu
Ia semakin bertumbuh
Kusiram menyeluruh
Sampai ia menampakkan kelopaknya
Mulai mengeluarkan harumnya
Dan aku pun memetiknya
-
Mengantarkannya untukmu
Mengelilingi tebing-tebing kemelut--runtuh
Melawati badai--gemuruh
Hujan lebat--membunuh
Dan sampai padamu
Tinggal tangkainya--kekasihku
--
Tapi tetap utuh di tanganku
*****
Makassar. 29 November 2019
-------
Ungkapkan Kata Itu
Ungkapkanlah padaku
Kata, bagi daun yang gugur
Adalah perpisahan bagi ranting yang rapuh
Ungkapkanlah padaku
Kata, bagi petang yang hilang
Adalah kerinduan bagi hari yang kelam
Ungkapkanlah padaku
Kata, bagi awan yang menjauh
Adalah kenangan bagi langit mendung tak membiru
Ungkapkanlah kata itu
Karena sebenarnya, Aku tahu
Sebuah kata, bagi bumi yang menunggu
Adalah tanya bagi matahari yang bersinar lesu
*****
Makassar. 29 November 2019
------
Ketika Aku Sedang Berpikir
Sepasang sayap burung tetiba jatuh
Ia jatuh tepat di atas dahan
Ditiup angin lagi
Ia jatuh tepat di atas kelopak melati
Dihempaskan arus sungai
Berhenti pada ujung air terjun
Ditenggelamkan busa-busa
Ia muncul lagi
Terus dibawa aliran sungai
Ia terhenti lagi
Di ujung pantai
Sampai sore harus berganti malam
Ia masih di sana
Semuanya terjadi ketika aku sedang berpikir
Bahwa sayap burung itu adalah
bentuk lain
Dari rinduku
*****
Makassar. 29 November 2019
-----
Yang Tak Sempat Terjadi
Pernah suatu ketika
Yang tak sempat terjadi
Aku ingin lari menerjang pagi
Tapi takutnya tak cukup hangat juga
Daripada pelukmu kekasih
Pernah suatu ketika
Yang tak sempat terjadi
Aku ingin menyeduh seribu hangat kopi
Tapi takutnya tak cukup hangat juga
Daripada ciummu kekasih
Sampai suatu ketika
Semuanya tak sempat terjadi
Sebab semuanya sudah hadir dalam dirimu
Kekasih
*****
Makassar. 30 November 2019
-----
Kubuat Puisi Untukmu Lagi
Kembali,
Kubuat puisi
Untukmu kekasih
Tapi bukan lagi tentang senja dan tenggelamnya
Tentang hujan dan rindunya
Atau tentang segelas kopi dan hangatnya
Hanya tentang senyummu yang masih indah
Itu saja,
Semoga setelah selesai kutulis engkau siap membacanya
Dan kita pun tenggelam dalam titimangsa
Di tempat yang hanya milik kita berdua
******
Makassar. 1 Desember 2019
------
Menjadi Sebagian Malammu Saja
Malam ini tetaplah sama
Dan aku masih menjadi sebagian malammu saja
Yang mengikuti detak jam dinding
Sampai berputar setengah
Yang mengikuti seduhan segelas kopi
Sampai diminum setengah
Malam ini tetaplah sama
Dan aku menjadi sebagian malammu saja
Yang bercerita tak sampai selesai
Yang menatapmu tak sampai selesai
Yang menatap matamu tak sampai selesai
Sebentar saja
Sebab yang lama
Hanyalah doaku
Yang nantinya berubah menjadi kita
******
Makassar. 1 Desember 2019
------
Malam Masih Panjang Kekasih
Ketika nanti
Peluk kita tak lagi erat
Kau bertanya kemana kita masing-masing akan pergi?
Ketika nanti
Kecup kita tak lagi nikmat
Kau bertanya kemana kita masing-masing akan saling bersembunyi?
Jawabku; kemana arah akan mengajak kita masing-masing, di situlah kita akan berlari
Akan tetapi, semakin kita berlari kekasih
Tataplah malam yang selalu gelap itu
Bahwa ia masihlah panjang
*****
Makassar. 1 Desember 2019
------
Sebelum Hujan Berhenti
Sebelum hujan berhenti
Aku melukis senyummu menjadi warna merah
Menjadi warna kuning
Menjadi warna hijau
warna biru
Maka jadilah pelangi
Sebelum hujan berhenti
Aku membuat sketsa wajahmu
Menjadi awan-awan bersih
Menjadi kepak-kepak burung yang terbang
Maka jadilah langit yang cerah
Sebelum hujan berhenti
Kuwarnai bibirmu menjadi kelopak bunga
Menjadi segarnya
Menjadi harumnya
Maka jadilah mekarnya yang dialiri bulir hujan yang tersisa
Sebelum hujan berhenti
Engkau menemuiku
Dan engkau berkata:
"Aku akan selalu mencintaimu"
*****
Makassar. 2 Desember 2019
-------
Mempertanyakan Hari
Kau tahu
Kenapa hari yang kita jalani tak selalu indah?
Sebab indahnya adalah saat kita mampu merasakan ketidaksempurnaannya
Kenapa hari yang kita jalani tak selalu cerah?
Sebab cerahnya adalah saat kita mampu mensyukuri kesuramannya
Kau tahu
Kenapa hari tak selalu indah dan cerah juga bagiku,?
Sebab indah dan cerah adalah saat aku mampu
Berada dan memelukmu
*****
Makassar. 3 Desember 2019
-----
Aku Membiru
Aku membiru
Seumpama langit yang disapa lautan
Seumpama langit yang samudera lukis kedalaman
Aku membiru
Menjadi angkasa terhampar untuk sayap-sayap indah
Menjadi luas yang tak berujung mata memandang jauh, hanya biru tertuju
Aku membiru
Seperti nama-nama yang diucap lelaki petang
Seperti ujar nenek yang ingin melepas anak merantau
Aku membiru
Tak tahu kah kau kekasihku?
Aku sangat biru
Di pelukanmu
*****
Makassar. 3 Desember 2019
------
Sisa Pelukmu
Sisa pelukmu menyisakan
Aroma padi yang baru saja dibasahi hujan
Menyisakan serpihan-serpihan daun kering
Yang beterbangan di depan mataku
Sisa pelukmu menyisakan tangkai-tangkai bunga yang harusnya segera dipetik
Sisa pelukmu menyisakan matahari yang bersinar di sekitar duka mataku
Sisa pelukmu menyisakan pesta yang diselenggarakan di atas pepohonan
Sisa pelukmu menyisakan gelas kopi yang masih terasa gulanya
Sisa pelukmu, menyisakan dirimu di pelukku
Sampai lelap menjemputku
*****
Makassar. 3 Desember 2019
------
Sebuah Harapan dan Pengakuan
Harapan angin kepada mendung
Wajah tirai langit di bayang-bayang genangan
Sebuah harapan yang masih tertuliskan
Tersimpanlah
Pintu surga selalu terbuka
Pangkuan janji bintik-bintik akhir senja
Terselami hari yang sudah banyak menampung air mata
Tibalah saatnya
Menunduklah wahai cinta yang lupa
Benamkan doa dan air matamu
Pejamkan
Akui
Alam semesta jadi saksi kita
Hidup dan pun berakhir bersama
Ayunan ibu-ibu kita selalu setia
*****
Makassar. 3 Desember 2019
------
Pagi Belum Membuta
Belum,
Pagi masih
jadi pujaan riuh-riuh orang menuju pekerjaannya
Ditinggal tawa
Yang harusnya disemai, sebelum kesibukan menjadi kebingungan sendiri
Pagi
Ia belum buta
Matanya tak ditutupi keraguan
Disetiap ia hadir tebar keyakinan
Ujung gunung dan ujung lautan
Ya..
Ia belum buta
Setidaknya sampai kita masih menjadi sebatas kekasih saja
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Perempuan yang Membiarkan Rambutnya Menjuntai
Rambutnya akar-akar danau di tepian
Pulau
Sinar matahari bercermin
Rambutnya tiupan angin
Menyerbu dahan-dahan kering
Rambutnya kilau kesendirian embun
Yang terlambat pulang sebelum pagi datang
Ia perempuan
Yang membiarkan rambutnya menjuntai
Saat aku duduk sendiri
Di dermaga putih
Rambutnya masih menjuntai
Walau memang kami tak ingin
Sebatas kekasih
Yang khianat pada kecup angin
*****
Makassar. Desember 2019
------
Bukan Sebatas Cerita
Pilah-pilah lah lembar ini
Lembar dari permukaan sedih
Tumbuh beragam bunga berduri
Di atas lamunan yang terpelihara
Menginjakkan kaki
Dan berjalan lunglai
Jika lembarnya terus kau ingin pahami
Tak akan kau temui
Kekasih
Erat genggaman ini bukan sebatas cerita
Tak akan membuatmu menjumpai akhirnya
Sebab apapun bentuk dari sebuah akhir
Tak akan mampu bertahan selamanya
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Kedatangan
Datangnya masa lalu menghampiri
Sampai tubuh tak mampu menukil
Beberapa ungkapan yang terlampau suram
Untuk apa?
Kedatangan
Kembali kuterpasung
Di kelam-kelam sejati
Seorang diri
Mencumbui cemas tak berganti
Kemari!
Kekasih, temani aku
Membunuh keluhku
Kepada langit yang tak mau tahu
Hadirmu, adalah jalan-jalan yang tak berlikuku
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Kepada Semua yang Kuinginkan
Kepada semua yang kuinginkan
Harum-harum yang dipuja seluruh dunia
Hiasan-hiasan yang kau kenakan
Ada yang terlupa
Sepucuk bunga yang kau cium kemarin sore
Orang-orang yang berlalu di taman semua kau tanyai
Hanya ada pengamen tua yang sedang bernyanyi
Bersama pengunjung pasar
Dan tak kau perhatikan yang berserakan di taman
Kepada semua yang kuinginkan
Harum-harum yang dipuja di seluruh dunia
Tak kau ambil juga duri di telapak kakikku
Obat penawar yang kau simpan sebelum pergi tak akan kuminum
Kepada semua yang kuinginkan
Kini membuatku tak punya ingatan
Semesta lagi sedang ribut-ributnya
*****
Makassar. 4 Desember 2019
-------
Membacamu
Lembarmu telah kubuka satu persatu
Dengan tatapan yang tak pernah membuamu ragu
Kalimatmu telah kudaras sampai tentang tidurmu
Dengan bibirku yang terus memujamu
Katamu telah kuucap sampai tentang malammu
Dengan pelukan yang selalu menemanimu
Aku telah membacamu
Sampai halaman terakhir tentang bahagiamu
Kala aku dan kamu menjadi utuh
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Biarkan Aku Menjadi Tidurmu
Biarkan
Aku menjadi tidurmu
Menjadi istirahat bagi lelahmu
Menjadi lelap bagi mimpimu
Menjadi rebah bagi malammu
Biarkan
Aku
Menjadi tidurmu
Saat resah harus kau diamkan dahulu
Saat gelisah harus kau sembunyikan dahulu
Saat penat harus kau biarkan berlalu
Biarkan
Aku bersemayam
Sampai--
Pagi menjelang
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Menuju Matamu
Hening
Membawaku bertemu waktu
Yang dentingnya adalah tatapanmu
Aku dipandu
Arah hati
Sampai berhenti pada pandangan bintang malam indahmu
Senyap
Di sekelilingku
Mengitari jejak-jejakku
Untuk melangkah
Ke sebuah tempat di bola matamu
Sejauh apapun itu
Matamu tepi pantai yang akan selalu kutuju
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Bermekaran
Kelopak saling memeluk
Setelah siraman nenek tua
Setidaknya sampai sore hari tiba
Ia masih menjadi sesosok bunga
Yang bermekaran
Dan seharusnya bermekaran
Layaknya cinta
Yang ditebarkan
Dan harusnya ditebarkan
.
Supaya menutup waktu bagi permusuhan
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Namamu
Namamu adalah adalah nafas yang kuhembus
Yang telah menjadi setengah nada dalam skala kromatik bagi musikus
Namamu adalah singgasana pemujaan cinta yang selalu kutadarus
Pada Aphrodite membacakan mantra-mantranya menembus langit Neptunus
Namamu adalah hitungan-hitungan yang telah kurumus
Yang ku tak pernah menemukan jumlahnya hanya sebagai ritus-ritus
Namamu
Adalah nama yang berpucuk di surga firdaus
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Izinkan Aku Menjadi Politisi Kekasih
Izinkan aku menjadi politisi
Yang memberi janji
Yang memberimu perhatian
Yang memberimu taktik-taktik pemenangan
Izinkan aku menjadi politisi
Yang selalu manis senyumnya
Yang begitu glamor tampilannya
Yang begitu tinggi retorikanya
Izinkan kekasih
Suaramu akan kuperjuangkan
Tapi katamu; jangan
Sebab aku tak ingin setiap hari diberi bualan
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Kekasihku yang Bertanya Tentang Desaku Kepada Negaranya
Kapan desa bisa berdikari?
Tanya kekasihku kepada negaranya
Di sana banyak ladang yang luas
Di sana banyak buah dan tanaman yang segar
Di sana banyak orang-orang yang arif pada alam.
Tanya kekasihku kepada negaranya lagi
Bukankah itu bisa membantumu
Tak harus kau pinjam ke sini dan ke situ
Tak harus kau naikkan iuran-iuran demi menutupi isi dompetmu.
Masih tanya kekasihku kepada negaranya
Negara tetap diam
Hanya memperbaiki tiang-tiang listrik agar tak sampai padam
Giliran aku yang diberi pertanyaan
Sebagai orang yang hidup di pedesaan
Aku hanya menjawab;
"Di desa masih banyak juga yang kelaparan dan kekurangan"
*****
Makassar. 5 Desember 2019
--------
Alasan Kekasihku Tak Ingin Membuat Anaknya Mempunyai Cita-cita
Jika kita menikah dan mempunyai anak kelak
Kau ingin menjadikan anakmu bercita-cita seperti apa?
Polisi?
Dokter?
Pilot?
Tentara?
Tanyaku..
:Jawabmu:
Tidak.
Aku tak mau membuatnya bercita-cita seperti itu semua,
Aku hanya ingin ketika ia terlahir ia menangis tapi bukan sekadar menangis
Tapi aku ingin ia menangis kalau tidak tahu membaca dan menulis
Tapi bukan sekadar membaca dan menulis
Tapi aku ingin ia membaca wajah alam dan menulis dengan nuraninya
Tapi bukan sekadar membaca
Tapi aku ingin ia benar-benar mengenal dirinya dan Tuhannya
Sebab buat apa cita-cita yang tinggi baginya
Jika penanya patah
Nuraninya kalah
Batinnya tak menyala
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Saat Kekasihku Tak Takut Misikin
Kekasihku
Wahai kekasihku
Dunia akan semakin rumit bagi kita
Tidak akan cukup bagiku
Membuat bait-bait puisi dan menjadikannya permata
Dunia akan semakin membuat kita lelah
Tidak akan cukup bagiku
Membuat rima-rima
Tidak akan cukup bagimu juga
Membuatmu bahagia
-
Tapi dirimu tetap tegar mengaduk adonan roti
Sesekali mencicipinya
Sesekali menambahkannya bumbu
Saat adonanmu selesai:
"Apa yang lebih penting dari dunia, ketimbang aku memiliki Tuhan yang menciptakannya"
"Termasuk adonan roti"
"Sudahlah, ini hanya dunia"
Jelasmu, sebelum aku memelukmu
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Kekasihku Menyuruhku Berbuat Dosa dan Beramal di Dunia
Kekasihku bilang;
Jika dirimu merasa tak pantas di surga
Pun tak pantas di neraka
Itu memang benar sayang
Maka berbuatlah dosa dan Beramallah di dunia
Karena dunia hamparan bernaung sesaat
Sebagai tempat untuk ahli taat
Dan ahli maksiat
Tapi sialnya, kedua-duanya harus hidup di dalamnya
Untuk apa aku berbuat dosa dan beramal?
Tanyaku memegang tangannya, yang belum dicuci sesudah mengulek tomat dan cabai untuk dijadikan sambel
Agar kau merasa
Entah, kau berbuat dosa atau beramal
Semuanya hanyalah
Ujian di dunia
Apalah arti bangga?
Jika semuanya hanya sesaat saja?
-
Aku pun mencicipi sambel yang telah dibuat kekasihku dan kurasakan sungguh pedas rasanya.
*****
Makassar. 5 Desember 2019
*Disarikan dari Nasihat Nabi Khaidir kepada Manusia
-------
Tiba-tiba Kekasihku Ingin Naik Garuda
Aku ingin sekarang sayang
Sekarang aku ingin berangkat
Aku ingin naik Garuda sayang..
Jangan tahan aku
Aku ingin pergi secepatnya
-
Tunggu
Sabar sayang
Besoklah kita akan berangkat
-
Tidak. Aku ingin sekarang
Cepatlah
Masa laluku ingin segera kulupakan
Akhir-akhir ini sangat menghantuiku
-
Lalu kenapa tiba-tiba kau ingin berangkat dan naik Garuda ?
-
Ingin kuselundupkan masa laluku
Agar ia pergi jauh
-
Kami pun langsung berangkat
*****
Makassar. 6 Desember 2019
------
Tak Bisa Kucintai Kekasihku Lagi
Hangat sore yang membuat kami saling bertatapan waktu itu
Membuat bibirnya mengucap sebuah kata larangan
Padahal aku tidak melakukan apa-apa
Hanya memandangnya
Dengan tatapan yang penuh kasih sayang
-
Setelah malam tiba nanti
Mulai saat itu
Jangan lagi mencintaiku
Kumohon jangan
-
Kuterdiam sejenak
Dan seakan mencabut pedang yang dihunus Kekasihku ke dadaku
Kenapa?
Pelan tanyaku, seperti seuntai benang yang dimasukkan ke dalam lubang jarum
-
Sudah
jangan ucapkan
Cukup hangat pelukan
Bagiku itu adalah setinggi-tingginya percintaan
-
Malam pun tiba,
Dan kami melihat cahaya bulan
Juga memeluk gelap malam
*****
Makassar. 6 Desember 2019
Kekasihku Bilang Tak Gampang Jatuh Cinta
Malam semakin kelam
Kutaburi wajah kekasihku
Dengan cahaya bulan
Ia pun memetik bintang
Dan merangkainya
Menjadi sebentuk pelukan
Kubisikilah ia;
"Inilah mungkin penjelasan dari jatuh cinta, sebab engkau telah membuat lentera menyala, di malam yang kita tak tahu akhirnya, dan kita pun jatuh di dalamnya?"
Ia membalikkan wajah dan berkata;
"Tidak semudah itu jatuh cinta,"
"Lalu apa?".
"Tidak sekadar terjatuh, tapi tentang jatuhnya hati ke hati yang telah tertuju, sebagaimana engkau telah menunjukkan hatiku ke hatimu, sebagai tempat terakhirku menerangi siang dan malamku--
---sepanjang waktu."
*****
Makassar. 8 Desember 2019
Kelopaknya telah layu kekasih
Tangkai yang kupegang ini,
Namun terimalah tanpa risih
Dan ciumlah sesuka hati
-
Jauh hari telah kutebar bibitnya untukmu
Kutanam, dan terus kutunggu
Ia semakin bertumbuh
Kusiram menyeluruh
Sampai ia menampakkan kelopaknya
Mulai mengeluarkan harumnya
Dan aku pun memetiknya
-
Mengantarkannya untukmu
Mengelilingi tebing-tebing kemelut--runtuh
Melawati badai--gemuruh
Hujan lebat--membunuh
Dan sampai padamu
Tinggal tangkainya--kekasihku
--
Tapi tetap utuh di tanganku
*****
Makassar. 29 November 2019
-------
Ungkapkan Kata Itu
Ungkapkanlah padaku
Kata, bagi daun yang gugur
Adalah perpisahan bagi ranting yang rapuh
Ungkapkanlah padaku
Kata, bagi petang yang hilang
Adalah kerinduan bagi hari yang kelam
Ungkapkanlah padaku
Kata, bagi awan yang menjauh
Adalah kenangan bagi langit mendung tak membiru
Ungkapkanlah kata itu
Karena sebenarnya, Aku tahu
Sebuah kata, bagi bumi yang menunggu
Adalah tanya bagi matahari yang bersinar lesu
*****
Makassar. 29 November 2019
------
Ketika Aku Sedang Berpikir
Sepasang sayap burung tetiba jatuh
Ia jatuh tepat di atas dahan
Ditiup angin lagi
Ia jatuh tepat di atas kelopak melati
Dihempaskan arus sungai
Berhenti pada ujung air terjun
Ditenggelamkan busa-busa
Ia muncul lagi
Terus dibawa aliran sungai
Ia terhenti lagi
Di ujung pantai
Sampai sore harus berganti malam
Ia masih di sana
Semuanya terjadi ketika aku sedang berpikir
Bahwa sayap burung itu adalah
bentuk lain
Dari rinduku
*****
Makassar. 29 November 2019
-----
Yang Tak Sempat Terjadi
Pernah suatu ketika
Yang tak sempat terjadi
Aku ingin lari menerjang pagi
Tapi takutnya tak cukup hangat juga
Daripada pelukmu kekasih
Pernah suatu ketika
Yang tak sempat terjadi
Aku ingin menyeduh seribu hangat kopi
Tapi takutnya tak cukup hangat juga
Daripada ciummu kekasih
Sampai suatu ketika
Semuanya tak sempat terjadi
Sebab semuanya sudah hadir dalam dirimu
Kekasih
*****
Makassar. 30 November 2019
-----
Kubuat Puisi Untukmu Lagi
Kembali,
Kubuat puisi
Untukmu kekasih
Tapi bukan lagi tentang senja dan tenggelamnya
Tentang hujan dan rindunya
Atau tentang segelas kopi dan hangatnya
Hanya tentang senyummu yang masih indah
Itu saja,
Semoga setelah selesai kutulis engkau siap membacanya
Dan kita pun tenggelam dalam titimangsa
Di tempat yang hanya milik kita berdua
******
Makassar. 1 Desember 2019
------
Menjadi Sebagian Malammu Saja
Malam ini tetaplah sama
Dan aku masih menjadi sebagian malammu saja
Yang mengikuti detak jam dinding
Sampai berputar setengah
Yang mengikuti seduhan segelas kopi
Sampai diminum setengah
Malam ini tetaplah sama
Dan aku menjadi sebagian malammu saja
Yang bercerita tak sampai selesai
Yang menatapmu tak sampai selesai
Yang menatap matamu tak sampai selesai
Sebentar saja
Sebab yang lama
Hanyalah doaku
Yang nantinya berubah menjadi kita
******
Makassar. 1 Desember 2019
------
Malam Masih Panjang Kekasih
Ketika nanti
Peluk kita tak lagi erat
Kau bertanya kemana kita masing-masing akan pergi?
Ketika nanti
Kecup kita tak lagi nikmat
Kau bertanya kemana kita masing-masing akan saling bersembunyi?
Jawabku; kemana arah akan mengajak kita masing-masing, di situlah kita akan berlari
Akan tetapi, semakin kita berlari kekasih
Tataplah malam yang selalu gelap itu
Bahwa ia masihlah panjang
*****
Makassar. 1 Desember 2019
------
Sebelum Hujan Berhenti
Sebelum hujan berhenti
Aku melukis senyummu menjadi warna merah
Menjadi warna kuning
Menjadi warna hijau
warna biru
Maka jadilah pelangi
Sebelum hujan berhenti
Aku membuat sketsa wajahmu
Menjadi awan-awan bersih
Menjadi kepak-kepak burung yang terbang
Maka jadilah langit yang cerah
Sebelum hujan berhenti
Kuwarnai bibirmu menjadi kelopak bunga
Menjadi segarnya
Menjadi harumnya
Maka jadilah mekarnya yang dialiri bulir hujan yang tersisa
Sebelum hujan berhenti
Engkau menemuiku
Dan engkau berkata:
"Aku akan selalu mencintaimu"
*****
Makassar. 2 Desember 2019
-------
Mempertanyakan Hari
Kau tahu
Kenapa hari yang kita jalani tak selalu indah?
Sebab indahnya adalah saat kita mampu merasakan ketidaksempurnaannya
Kenapa hari yang kita jalani tak selalu cerah?
Sebab cerahnya adalah saat kita mampu mensyukuri kesuramannya
Kau tahu
Kenapa hari tak selalu indah dan cerah juga bagiku,?
Sebab indah dan cerah adalah saat aku mampu
Berada dan memelukmu
*****
Makassar. 3 Desember 2019
-----
Aku Membiru
Aku membiru
Seumpama langit yang disapa lautan
Seumpama langit yang samudera lukis kedalaman
Aku membiru
Menjadi angkasa terhampar untuk sayap-sayap indah
Menjadi luas yang tak berujung mata memandang jauh, hanya biru tertuju
Aku membiru
Seperti nama-nama yang diucap lelaki petang
Seperti ujar nenek yang ingin melepas anak merantau
Aku membiru
Tak tahu kah kau kekasihku?
Aku sangat biru
Di pelukanmu
*****
Makassar. 3 Desember 2019
------
Sisa Pelukmu
Sisa pelukmu menyisakan
Aroma padi yang baru saja dibasahi hujan
Menyisakan serpihan-serpihan daun kering
Yang beterbangan di depan mataku
Sisa pelukmu menyisakan tangkai-tangkai bunga yang harusnya segera dipetik
Sisa pelukmu menyisakan matahari yang bersinar di sekitar duka mataku
Sisa pelukmu menyisakan pesta yang diselenggarakan di atas pepohonan
Sisa pelukmu menyisakan gelas kopi yang masih terasa gulanya
Sisa pelukmu, menyisakan dirimu di pelukku
Sampai lelap menjemputku
*****
Makassar. 3 Desember 2019
------
Sebuah Harapan dan Pengakuan
Harapan angin kepada mendung
Wajah tirai langit di bayang-bayang genangan
Sebuah harapan yang masih tertuliskan
Tersimpanlah
Pintu surga selalu terbuka
Pangkuan janji bintik-bintik akhir senja
Terselami hari yang sudah banyak menampung air mata
Tibalah saatnya
Menunduklah wahai cinta yang lupa
Benamkan doa dan air matamu
Pejamkan
Akui
Alam semesta jadi saksi kita
Hidup dan pun berakhir bersama
Ayunan ibu-ibu kita selalu setia
*****
Makassar. 3 Desember 2019
------
Pagi Belum Membuta
Belum,
Pagi masih
jadi pujaan riuh-riuh orang menuju pekerjaannya
Ditinggal tawa
Yang harusnya disemai, sebelum kesibukan menjadi kebingungan sendiri
Pagi
Ia belum buta
Matanya tak ditutupi keraguan
Disetiap ia hadir tebar keyakinan
Ujung gunung dan ujung lautan
Ya..
Ia belum buta
Setidaknya sampai kita masih menjadi sebatas kekasih saja
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Perempuan yang Membiarkan Rambutnya Menjuntai
Rambutnya akar-akar danau di tepian
Pulau
Sinar matahari bercermin
Rambutnya tiupan angin
Menyerbu dahan-dahan kering
Rambutnya kilau kesendirian embun
Yang terlambat pulang sebelum pagi datang
Ia perempuan
Yang membiarkan rambutnya menjuntai
Saat aku duduk sendiri
Di dermaga putih
Rambutnya masih menjuntai
Walau memang kami tak ingin
Sebatas kekasih
Yang khianat pada kecup angin
*****
Makassar. Desember 2019
------
Bukan Sebatas Cerita
Pilah-pilah lah lembar ini
Lembar dari permukaan sedih
Tumbuh beragam bunga berduri
Di atas lamunan yang terpelihara
Menginjakkan kaki
Dan berjalan lunglai
Jika lembarnya terus kau ingin pahami
Tak akan kau temui
Kekasih
Erat genggaman ini bukan sebatas cerita
Tak akan membuatmu menjumpai akhirnya
Sebab apapun bentuk dari sebuah akhir
Tak akan mampu bertahan selamanya
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Kedatangan
Datangnya masa lalu menghampiri
Sampai tubuh tak mampu menukil
Beberapa ungkapan yang terlampau suram
Untuk apa?
Kedatangan
Kembali kuterpasung
Di kelam-kelam sejati
Seorang diri
Mencumbui cemas tak berganti
Kemari!
Kekasih, temani aku
Membunuh keluhku
Kepada langit yang tak mau tahu
Hadirmu, adalah jalan-jalan yang tak berlikuku
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Kepada Semua yang Kuinginkan
Kepada semua yang kuinginkan
Harum-harum yang dipuja seluruh dunia
Hiasan-hiasan yang kau kenakan
Ada yang terlupa
Sepucuk bunga yang kau cium kemarin sore
Orang-orang yang berlalu di taman semua kau tanyai
Hanya ada pengamen tua yang sedang bernyanyi
Bersama pengunjung pasar
Dan tak kau perhatikan yang berserakan di taman
Kepada semua yang kuinginkan
Harum-harum yang dipuja di seluruh dunia
Tak kau ambil juga duri di telapak kakikku
Obat penawar yang kau simpan sebelum pergi tak akan kuminum
Kepada semua yang kuinginkan
Kini membuatku tak punya ingatan
Semesta lagi sedang ribut-ributnya
*****
Makassar. 4 Desember 2019
-------
Membacamu
Lembarmu telah kubuka satu persatu
Dengan tatapan yang tak pernah membuamu ragu
Kalimatmu telah kudaras sampai tentang tidurmu
Dengan bibirku yang terus memujamu
Katamu telah kuucap sampai tentang malammu
Dengan pelukan yang selalu menemanimu
Aku telah membacamu
Sampai halaman terakhir tentang bahagiamu
Kala aku dan kamu menjadi utuh
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Biarkan Aku Menjadi Tidurmu
Biarkan
Aku menjadi tidurmu
Menjadi istirahat bagi lelahmu
Menjadi lelap bagi mimpimu
Menjadi rebah bagi malammu
Biarkan
Aku
Menjadi tidurmu
Saat resah harus kau diamkan dahulu
Saat gelisah harus kau sembunyikan dahulu
Saat penat harus kau biarkan berlalu
Biarkan
Aku bersemayam
Sampai--
Pagi menjelang
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Menuju Matamu
Hening
Membawaku bertemu waktu
Yang dentingnya adalah tatapanmu
Aku dipandu
Arah hati
Sampai berhenti pada pandangan bintang malam indahmu
Senyap
Di sekelilingku
Mengitari jejak-jejakku
Untuk melangkah
Ke sebuah tempat di bola matamu
Sejauh apapun itu
Matamu tepi pantai yang akan selalu kutuju
*****
Makassar. 4 Desember 2019
------
Bermekaran
Kelopak saling memeluk
Setelah siraman nenek tua
Setidaknya sampai sore hari tiba
Ia masih menjadi sesosok bunga
Yang bermekaran
Dan seharusnya bermekaran
Layaknya cinta
Yang ditebarkan
Dan harusnya ditebarkan
.
Supaya menutup waktu bagi permusuhan
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Namamu
Namamu adalah adalah nafas yang kuhembus
Yang telah menjadi setengah nada dalam skala kromatik bagi musikus
Namamu adalah singgasana pemujaan cinta yang selalu kutadarus
Pada Aphrodite membacakan mantra-mantranya menembus langit Neptunus
Namamu adalah hitungan-hitungan yang telah kurumus
Yang ku tak pernah menemukan jumlahnya hanya sebagai ritus-ritus
Namamu
Adalah nama yang berpucuk di surga firdaus
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Izinkan Aku Menjadi Politisi Kekasih
Izinkan aku menjadi politisi
Yang memberi janji
Yang memberimu perhatian
Yang memberimu taktik-taktik pemenangan
Izinkan aku menjadi politisi
Yang selalu manis senyumnya
Yang begitu glamor tampilannya
Yang begitu tinggi retorikanya
Izinkan kekasih
Suaramu akan kuperjuangkan
Tapi katamu; jangan
Sebab aku tak ingin setiap hari diberi bualan
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Kekasihku yang Bertanya Tentang Desaku Kepada Negaranya
Kapan desa bisa berdikari?
Tanya kekasihku kepada negaranya
Di sana banyak ladang yang luas
Di sana banyak buah dan tanaman yang segar
Di sana banyak orang-orang yang arif pada alam.
Tanya kekasihku kepada negaranya lagi
Bukankah itu bisa membantumu
Tak harus kau pinjam ke sini dan ke situ
Tak harus kau naikkan iuran-iuran demi menutupi isi dompetmu.
Masih tanya kekasihku kepada negaranya
Negara tetap diam
Hanya memperbaiki tiang-tiang listrik agar tak sampai padam
Giliran aku yang diberi pertanyaan
Sebagai orang yang hidup di pedesaan
Aku hanya menjawab;
"Di desa masih banyak juga yang kelaparan dan kekurangan"
*****
Makassar. 5 Desember 2019
--------
Alasan Kekasihku Tak Ingin Membuat Anaknya Mempunyai Cita-cita
Jika kita menikah dan mempunyai anak kelak
Kau ingin menjadikan anakmu bercita-cita seperti apa?
Polisi?
Dokter?
Pilot?
Tentara?
Tanyaku..
:Jawabmu:
Tidak.
Aku tak mau membuatnya bercita-cita seperti itu semua,
Aku hanya ingin ketika ia terlahir ia menangis tapi bukan sekadar menangis
Tapi aku ingin ia menangis kalau tidak tahu membaca dan menulis
Tapi bukan sekadar membaca dan menulis
Tapi aku ingin ia membaca wajah alam dan menulis dengan nuraninya
Tapi bukan sekadar membaca
Tapi aku ingin ia benar-benar mengenal dirinya dan Tuhannya
Sebab buat apa cita-cita yang tinggi baginya
Jika penanya patah
Nuraninya kalah
Batinnya tak menyala
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Saat Kekasihku Tak Takut Misikin
Kekasihku
Wahai kekasihku
Dunia akan semakin rumit bagi kita
Tidak akan cukup bagiku
Membuat bait-bait puisi dan menjadikannya permata
Dunia akan semakin membuat kita lelah
Tidak akan cukup bagiku
Membuat rima-rima
Tidak akan cukup bagimu juga
Membuatmu bahagia
-
Tapi dirimu tetap tegar mengaduk adonan roti
Sesekali mencicipinya
Sesekali menambahkannya bumbu
Saat adonanmu selesai:
"Apa yang lebih penting dari dunia, ketimbang aku memiliki Tuhan yang menciptakannya"
"Termasuk adonan roti"
"Sudahlah, ini hanya dunia"
Jelasmu, sebelum aku memelukmu
*****
Makassar. 5 Desember 2019
------
Kekasihku Menyuruhku Berbuat Dosa dan Beramal di Dunia
Kekasihku bilang;
Jika dirimu merasa tak pantas di surga
Pun tak pantas di neraka
Itu memang benar sayang
Maka berbuatlah dosa dan Beramallah di dunia
Karena dunia hamparan bernaung sesaat
Sebagai tempat untuk ahli taat
Dan ahli maksiat
Tapi sialnya, kedua-duanya harus hidup di dalamnya
Untuk apa aku berbuat dosa dan beramal?
Tanyaku memegang tangannya, yang belum dicuci sesudah mengulek tomat dan cabai untuk dijadikan sambel
Agar kau merasa
Entah, kau berbuat dosa atau beramal
Semuanya hanyalah
Ujian di dunia
Apalah arti bangga?
Jika semuanya hanya sesaat saja?
-
Aku pun mencicipi sambel yang telah dibuat kekasihku dan kurasakan sungguh pedas rasanya.
*****
Makassar. 5 Desember 2019
*Disarikan dari Nasihat Nabi Khaidir kepada Manusia
-------
Tiba-tiba Kekasihku Ingin Naik Garuda
Aku ingin sekarang sayang
Sekarang aku ingin berangkat
Aku ingin naik Garuda sayang..
Jangan tahan aku
Aku ingin pergi secepatnya
-
Tunggu
Sabar sayang
Besoklah kita akan berangkat
-
Tidak. Aku ingin sekarang
Cepatlah
Masa laluku ingin segera kulupakan
Akhir-akhir ini sangat menghantuiku
-
Lalu kenapa tiba-tiba kau ingin berangkat dan naik Garuda ?
-
Ingin kuselundupkan masa laluku
Agar ia pergi jauh
-
Kami pun langsung berangkat
*****
Makassar. 6 Desember 2019
------
Tak Bisa Kucintai Kekasihku Lagi
Hangat sore yang membuat kami saling bertatapan waktu itu
Membuat bibirnya mengucap sebuah kata larangan
Padahal aku tidak melakukan apa-apa
Hanya memandangnya
Dengan tatapan yang penuh kasih sayang
-
Setelah malam tiba nanti
Mulai saat itu
Jangan lagi mencintaiku
Kumohon jangan
-
Kuterdiam sejenak
Dan seakan mencabut pedang yang dihunus Kekasihku ke dadaku
Kenapa?
Pelan tanyaku, seperti seuntai benang yang dimasukkan ke dalam lubang jarum
-
Sudah
jangan ucapkan
Cukup hangat pelukan
Bagiku itu adalah setinggi-tingginya percintaan
-
Malam pun tiba,
Dan kami melihat cahaya bulan
Juga memeluk gelap malam
*****
Makassar. 6 Desember 2019
Kekasihku Bilang Tak Gampang Jatuh Cinta
Malam semakin kelam
Kutaburi wajah kekasihku
Dengan cahaya bulan
Ia pun memetik bintang
Dan merangkainya
Menjadi sebentuk pelukan
Kubisikilah ia;
"Inilah mungkin penjelasan dari jatuh cinta, sebab engkau telah membuat lentera menyala, di malam yang kita tak tahu akhirnya, dan kita pun jatuh di dalamnya?"
Ia membalikkan wajah dan berkata;
"Tidak semudah itu jatuh cinta,"
"Lalu apa?".
"Tidak sekadar terjatuh, tapi tentang jatuhnya hati ke hati yang telah tertuju, sebagaimana engkau telah menunjukkan hatiku ke hatimu, sebagai tempat terakhirku menerangi siang dan malamku--
---sepanjang waktu."
*****
Makassar. 8 Desember 2019


Tidak ada komentar:
Posting Komentar