Toleransi dan Persatuan
Toleransi dan persatuan tidak dibangun dari superioritas dan dominasi atas yang lainnya. Keduanya dibangun dari silaturrahim dan silatul fikri (dialog beretika). Superioritas dan dominasi cenderung melahirkan kekuasaan. Sedangkan logika kekuasaan seperti ini cenderung menekan potensi kekuasaan baru yang menjadi competitornya. Logika kompetisi acapkali - untuk tidak berkata selalu - gagal merangkai kolaborasi. Sedangkan logika kolaborasi sesungguhnya merupakan "saudara kembar" dari toleransi dan persatuan.
Berpikir sektarian hanya akan menciptakan ekslusifisme. Ekslusifisme mengundang kecurigaan. Jika sampai pada tahap kecurigaan yang berlebihan dan tak berdasarkan fakta kecurigaan akan berubah bentuk menjadi fitnah. Akibatnya, bisa lebih fatal dari pembunuhan. Karenanya, toleransi dan persatuan mesti dimulai dari silaturrahim dan dialog beretika (yang santun) untuk sebuah perjumpaan ide. Dari situlah titik temu dapat dirumuskan bersama, lalu disepakati. Keterlibatan akan mendorong rasa tanggung jawab bersama. Kalaupun tidak demikian, sekurang-kurangnya perrbedaan dan keragaman dapat dimaklumi dan disikapi bersma-sama secara bijak dan proporsional.
--------
Anak-anak laksana permata bagi orangtuanya. Sedangkan Keberadaan orangtua laksana mahkota bagi anak-anaknya. Anak-anak kadang baru merasakan pentingnya keberadaan mereka di saat mereka satu persatu meninggalkan. Keberadaannya laksana mahkota kesehatan yang diletakkan di atas kepala orang yang sehat, namun hanya tampak indah dalam penglihatan orang yang sedang sakit.
-------
SYUKUR SEBAGAI ANUGRAH
Bersyukur hanya bisa terjadi apabila Allah merestui dan menolong. Hal itu tampak pada firmanNya:
رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai."
(QS. An-Naml (27) : 19)
Ayat di atas merupakan petikan dari doa Nabi Sulaiman as.yang meminta taufik dari Allah agar mampu untuk bersyukur. "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu.". Nabi Saw.pun mengajarkan untuk.berdoa memohon pertolongan dan taufik untuk selalu berzikir kepadaNya, mensyukuriNya, dan membaikkan ibadah hanya kepadaNya.
Ketika syukur itu telah meresap dalam hati dan menumbuhkan kerinduan dan kecintaan kepada Sang Pemberi Nikmat, maka nikmat itu bertambah sampai keadaan yang terkatakan lagi. Ketika Anda mampu berzikir, mampu bersyukur, dan beribadah dalam ketaatan, itu bukan karena Anda hebat dan saleh. Tetapi, sesungguhnya Allah yang menolong dan menganugrahkan kemampuan untuk senantiasa berzikir, besyukur, dan beribadah. Maka, bersukurlah dan teruslah mohon pertolongan agar tetap mampu bersyukur.
-------
*Mengapa perbaikan itu harus dimulai dari autokritik (muhasabah)?*
Alquran mengisyaratkan bahwa perubahan itu harus dimulai dari dalam (diri sendiri) atau autokritik. "Sesungguhnya Allah tidak (berkenan) mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka berikhtiar mengubah keadaan yang ada pada diri mereka..." (Qs. 13 : 11).
Perubahan yang efektif harus dimulai dari 'dalam'. Hal itu diisyaratkan pada kata "أنفسهم" yang menunjuk pada 'sisi dalam' yang ada pada manusia.
Pada tataran individu, perubahan berawal dari kesadaran. Kesadaran itu adanya di jiwa. Sadar itu berasal dari bahasa Arab صدر "shadrun" berarti dada atau jiwa.
Secara semiotik, Nabi Muhammad Saw. di"bedah" dadanya sehingga menjadi terang dalam jiwanya menerima kebenaran risalah dari Tuhannya. Perhatikan surah al-Insyirah.
Nabi Musa a.s. pun berdoa tatkala hendak berhadapan Fir'aun. Beliau meminta agar Allah berkenan mencerahkan jiwanya dan dimudahkan urusannya, sehingga mampu menghadapi logika dan argumen Fur'aun. Pada lafal doa itu ditunjuk kata صدري "shadriy" yang bermakna 'dada/jiwaku'.
Pusat kesadaran dan nilai itu pada manusia itu ada dalam jiwanya. Dari situlah perubahan dan perbaikan tepat dimulai. Diantara cara yang ditunjukkan Alquran yaitu muhasabah (renungan, autokritik)
.
Kesadaran tidak akan efektif jika dimulai dari materi. Justru, materi cenderung menjadi incaran nafsu belaka. Nafsu takkan pernah terpuaskan. Manusia disyariatkan dengan ibadah puasa sebagai pendidikan jiwa agar terbebas dari ketergantungan pada materi. Itu sebabnya, penyucian jiwa instrumennya adalah materi dengan beragam statusnya seperti zakat, infak, shadaqah, dsb. Jiwa yang merdeka adalah jiwa yang terbebas dari jebakan materi.
Hubungan jiwa dengan materi itu juga memang tak terpisahkan. Sebab, materi adalah instrumen pembersih jiwa. Ketika Alquran menuturkan "ambillah sebagian dari materi/harta mereka berupa zakat yang membersihkan harta dan jiwa mereka. Dan doakanlah mereka (para muzakki, mutashaddiq, munfiq), karena sesungguhnya doamu menghadirkan ketentraman jiwa mereka.
Semoga shadaqah untuk kebaikan dan puasa dilaksanakan tak terbatas sekadar sebagai rutinitas syariat, tetapi lebih dari itu, mampu memerdekakan jiwa dari belenggu materi semata.
Wallahu a'lam.
Samata 10 Muharram 1441 H.
---------
Terkadang ada:
1. yang memotivasi untuk bekerja keras demi meraih sukses.
2. yang memotivasi bekerja ikhlas untuk meraih ridha Allah, sukses dunia akhiratlah pokoknya.
3. yang memotivasi murid/anak agar cerdas dan kelak mereka bekerja cerdas untuk sukses.
3. yang memotivasi agar para pegawai/karyawan untuk bekerja tuntas.
Teridentifikasi bahwa:
Bekerja keras : wilayah fisik
Bekerja ikhlas : wilayah hati
Bekerja cerdas : wilayah otak
Bekerja tuntas : karakter kinerja.
Aspek mana yang prioritas? Fisik, hati, otak atau karakter? Semuanya harus dilatih terintegrasi agar manusia tumbuh dan berkembang secara utuh, tidak mengalami keterbelahan. Manusia adalah makhluk Tuhan yang unik dan "sempurna". Pendidikan tidak bertujuan untuk membelah manusia, tetapi mendidik secara utuh, simultan, dan seimbang. Itulah pembangunan manusia seutuhnya.
---------
Kadang kekurangan fisik mendorong manusia melampaui perhatiannya terhadap fisik. Lalu menemukan keunikan potensi dirinya. Ia pun melejit melampaui kompetensi manusia rata-rata. Ia menjadi manusia unik.
Kerap pula kesempurnaan fisik membuat tertuju dan terhenti perhatian pada fisik. Decak kagum atas fisik sempurna. Hingga pada waktunya fisik berubah dan terlambat menemukan keunikan potensi diri.
"The more you like yourself, the less you are like anyone else, which makes you unique".
(Walt Disney). "Semakin Anda menyukai diri Anda sendiri, semakin sedikit kemiripan Anda dengan orang lain, yang membuat Anda unik".
Semakin bersyukur, semakin unik nikmat Allah, semakin tersingkap kebesaran dan keagunganNya melalui keunikan makhluk. Percayalah, Anda adalah makhluk unik.
--------
*Usia dan penglihatan*
Secara umum, usia dan penglihatan manusia mempunyai hubungan pengaruh. Seiring pertambahan usia manusia terjadi pula perubahan pada kualitas penglihatan. Ketika awal terlahir (sebagai bayi), kualitas penglihatan belum maksimal. Begitu berlalu beberpa hari, minggu, bulan, hingga tahun maka kualitas penglihatan makin bertambah pula.
Hingga pada fase (usia) tertentu, karena berbagai sebab, penglihatan manusia kembali perlahan tapi pasti mengalami penurunan kualitas. Makin bertambah usianya makin berkurang pula kualitas penglihatan mata (minus). Hingga pada keadaan tertentu, dokter ahli kesehatan mata manyarankan untuk menggunakan alat bantu berupa kacamata (minus atau plus). Bahkan ada diantaranya yang tak dapat dibantu lagi, sehingga harus mengalami kondisi tak melihat, tidak seperti dahulu ketika muda.
Mengapa harus demikian? Ini adalah sunnatullah. Allah menggenggam rahasia itu. Manusia berusaha mengintip rahasia itu lewat isyarat Alquran. Ternyata, Allah mengurangi kualitas penglihatan mata terhadap terang dan silaunya dunia. Sebaliknya, Dia mengajarkan manusia agar memcerahkan mata hati/batinnya untuk menatap semakin dekatnya dan terangnya cahaya akhirat agar manusia tidak tersesat jalannya menuju kepadanya.
Terangnya dunia seringkali menyilaukan mata, sehingga tidak jelas arah tujuan. Sedangkan terangnya akhirat hanya bisa dijangkau oleh mata hati (iman dan takwa). Simaklah firman Allah " Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)" (Qs. Al Isra' : 72).
-------
*Antara Wajib dan Sunnah*
Suatu ketika ada orang bertamu di sebuah kantor. Sebelumnya, ia telah menghubungi manajer perusahaan pada kantor tersebut. Ia bahkan telah mendapatkan persetujuan untuk datang pada jam tertentu. Baik, datang tepat waktu ya!, saya tunggu di kantor. Demikian saran manajer dengan intonasi dan gaya bahasa yang meyakinkan.
Tamu tersebut berusaha dengan semaksimal mungkin agar dapat tepat waktu. Target on time itulah menjadi target perjalanannya demi menepati janji. Alhamdulillah, benar ia tiba 5 menit lebih cepat. Ia menghirup napas lega diiringi ucapan syukur. Ia segera masuk dengan rasa percaya diri. Karena selain telah ada janji, ia pun masuk tepat pada jam yang disepakati.
Salah seorang perempuan mengaku staf kantor mendekati dan mempersilahkan masuk. Ia menanyakan apa tujuannya dan mau bertemu dengan siapa? Tegas ia menjawab bertemu dengan Bos. Manajer maksudnya. Ada janji Pak? Ya, ada. Jam 10 tepat, katanya. Oke, Pak. Saya beritahu dulu Bos.
Tunggu dulu Pak, ibu manajer lagi di musholla sedang shalat dhuha. Oh, ya ya.... Berselang 20 menit setelahnya mulai membuat penasaran. Kok, belum keluar menemui tamu atau mempersilahkan masuk ke ruangan. Stafnya kembali menemui, dan ternyata belum selesai. 10 menit lagi Pak ya.
Berlalu lebih 30 menit menunggu, belum ada panggilan masuk. Stafnya memberitahukan bahwa ibu manajer sedang mengaji dulu pak. Mohon ditunggu. Tamu itu sudah mulai tidak nyaman sudah hampir 1 jam menunggu. Ia pun berdiri dan memohon izin untuk meninggalkan kantor, ia memiliki agenda lain di tempat yang lain.
Saat keluar tiba-tiba sang manajer datang dan memanggil tamunya. Tamu itu kembali dengan wajah tak puas atas pelayanan apalagi agaenda di tempat lain sudah hampir tiba waktunya. Tentu hal ini membuat hati tamu itu serba salah, jika kembali memenuhi panggilan manajer, ia akan terlambat pada agenda lain.
************
Shalat dhuha dan mengaji itu bagus. Tetapi, melayani tamu dan menepati janji tepat waktu itu sangat penting. Shalat dhuha itu hukumnya sunnat. Memuliakan dan melayani tamu itu hukumnya wajib. Menepati janji itu hukumnya wajib pula. Mengabaikan tamu dan menyalahi janji itu dosa. Memburu pahala ibadah sunnat tetapi melalaikan kewajiban justru bisa menghadirkan dosa besar dan fitnah. Kenapa membuat janji lalu shalat dhuha dan mengaji.
Nabi sangat memberi perhatian terhadap tamunya. Sehingga beliau menghubungkan kualitas iman dengan sikap terhadap tamu: "barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah memuliakan tamunya". Di kali yang lain beliau menyebutkan : " tanda -tanda orang munafik ada 3: (1) bila berbicara, ia dusta; (2) bila berjanji, ia menyalahi janji dan; (3) bila diberi amanah, ia berkhianat.
--------
#Rezeki dan Nikmatnya Rezeki#
Rezeki setiap manusia memang tidak sama, dan tak pernah tertukar secara mutlak. Kalau
"terpaksa" tertukar atau pun dirampas atau sejenisnya , dan belum selesai di dunia maka pasti pelakunya bertanggungjawab memikul dan mengembalikan kepada korbannya di dunia.
Sekali lagi, rezeki setiap orang tidak selalu sama, bahkan tidak sama. Demikian pula nikmatnya rezeki Allah yang bagi. Tak jarang orang dinobatkan berada (kaya sebut saja begitu), tidak mutlak menikmati seluruh kepemilikannya sebelum meninggal. Yang ditinggalkan menjadi hak dan rezeki bagi ahli warisnya.
Allah yang membagi nikmat. Nasi bungkus misalnya, begitu nikmat luar biasa bagi orang miskin atau orang yang sangat lapar sampai berbunyi tenggorokannya (mattingkerrok:Bugis) saat usai makan atau sedang makan. Pertanda nikmatnya makanan itu. Maka, makanlah saat lapar. Demikian Nabi menuntun kita. Padahal, nasi bungkus bagi sebagian orang yang berpunya itu tidak dilirik atau bahkan bahkan karena dilarang oleh dokter demi mencegah diabetes tambah parah.
Islam mengatur pendistrisbusian harta dan penggunaannya, sebab di balik melepas rasa kepemilikan terhadap benda akan melahirkan kenikmatan yang tak tergambarkan dengan untaian verbal, sebab kenikmatan hanya dirasakan oleh jiwa. Penderitaan pun hanya ada dalam penderitaan jiwa. Seorang Nabi yang dimakan ulat fisiknya tak menderita jiwanya. Dan berbahagia menikmati kebersamaan dengan Rabbnya. Beliau adalah Nabi Ayyub a.s.
Ini tidak berarti dilarang menjadi kaya, bahkan sebaiknya menjadi kaya agar dapat melakukan banyak kebaikan dengan kekayaan itu. Tapi nikmat rezeki tidak selalu ada dalam kuantitas harta, bisa jadi ada pada rezeki harta yang tepat sasaran penggunaannya. Rezeki memang tak sama, tapi nikmatnya rezeki Allah yang bagi. Orang berpunya dan orang miskin berbeda cara menikmatinya.
---------
#VITALITAS AGAMA#
Agama tidak bisa diatur oleh kekuatan politik, agama tidak tumbuh dengan logika kekuasaan, tapi dengan logika kepercayaan. Daya tarik agama berbeda dengan daya tarik politik, sehingga penindasan terhadap agama justru kerap menyuburkan agama itu.
Agama mempunyai vitalitas (daya hidup) yang berbeda dengan politik. Kalau tidak muncul di permukaan, agama akan "bergerilya" di bawah. Agama laksana air, tidak bisa dibendung. Jika dibendung, ia akan selalu mencari jalan yang mengalir. (Kuntowijoyo, 1943 - 2005). Karena itu, negara dan agama tidak boleh berhadapan, melainkan berjalan searah. Maka, keduanya akan saling menguatkan.
Agama, semakin difitnah semakin tumbuh subur. Semakin diteror semakin kuat, Karena agama diyakini sebagai jalan keselamatan. Sedangkan keselamatan merupakan dambaan semua manusia.
--------
*Selubung Hati*
Selubung hati memiliki daya pesona yang kuat. Sehat, kuat, tahta, harta, kekuasaan kerap menjadi selubung hati. Fir'aun diselubungi hatinya oleh kekuasaan dan jabatan selama 400 th usianya. Qarun diselubungi hatinya oleh harta.
Nabi Ayyub a.s. dibuka selubung hatinya dengan penyakit. Nabi Yunus a.s. dibuka selubung.hatinya ketika ditelan ikan. Nabi Muhammad Saw. dibuka selubung hatinya dengan mewafatkan manusia-manusia yg menjadi sandarannya agar beliau hanya bersandar pada Allah.
Manusia beriman dibuka selubung hatinya dengan rasa lapar dan dahaga. Orang berpuasa dibuka selubung hatinya dengan menghilangkan rasa kepemilikannya yg berlebihan terhadap harta melalui zakat, shadaqah, infaq agar ia menyadari bhw harta akan musnah pada waktunya. Hanyalah Allah yg kekal.
Dengan membuka selubung hati, manusia akan menampakkan ego otentik (suara kebenaran dan kebaikan). Zakat dan permaafan sebagai pembuka selubung hati dari dengki, dendam, monopoli agar hati dan nuraninya tercerahkan untuk menyingkap cahaya Ilahi.
---------
*Semua penting*
Dalam sebuah masjid, banyak yang terlibat. Keterlibatan mereka semua penting. Panitia pembangunan telah berpikir dan bekerja keras untuk menghadirkan masjid yang nyaman bagi jamaah. Donatur dan penyumbang juga penting karena merekalah menyumbang sehingga sebuah masjid dapat dibangun. Tukang pun penting karena dengannya masjid dapat didirikan dengan kokoh dan berseni. Penyedia material dan bahan-bahan bangunan pun penting meski harus dibeli, sebab meski ada uang dan tukang jika bahannya tidak ada maka tidak bisa jadi terwujud pembangunan.
Setelah masjid dibangun maka bukan berarti segalanya telah selesai. Harus ada imam yang bersedia meluangkan waktu dan kemahirannya untuk memimpin jamaah untuk salat. Muazin pun tak kalah pentingnya, ia harus disiplin melakukan azan menandai masuk waktu salat. Jika karpet dan sajadah atau lantai kotor serta keran air wuduk yang macet /kosong airnya maka syarat sah salat tidak terpenuhi, maka marbot masjid juga punya peran penting dan menentukan.
Panitia amaliah ramadan pun tak ketinggalan beraksi, sebelum ramadan sudah bermusyawarah. Mereka Menyusun jadwal ceramah, imam, penyedia buka puasa. Menyediakan kotak amal, menghitung uang yang masuk, mendistribusi sesuai peruntukannya. Jika Penceramah berhalangan, maka yang pusing tujuh keliling adalah panitia. Jamaah juga penting kehadirannya, sebab penceramah pasti merasa tak elok jika berceramah tanpa pendengar/jamaah yang setia.
Semoga semua dipandang penting dan tak mengklaim diri paling penting. Mari menjadi orang penting dengan menempati dan mengambil peran masing-masing sesuai kapasitas.
---------
*Bersyukurlah, hidup akan jadi nikmat*
Kerap kali kita mengeluh tidak puas dengan kehidupan kita. Sementara, kita tidak sadar bahwa kehidupan kita menjadi impian orang lain. Mahasiswa misalnya, mengeluh karena padatnya jadwal kuliah. Saat itu anda harus sadari bahwa ribuan orang yang bermimpi menjadi mahasiswa, namun karena berbagai faktor mereka tak sempat mengalaminya. Andalah yang ditakdirkan untuk itu, syukuri. Ada jutaan pelamar CPNS bermimpi bekerja sebagai PNS, namun Andalah yang ditakdirkankan untuk itu. Syukuri.
Seorang anak petani sedang menatap ke langit dan melihat pesawat terbang di ketinggian. Ia pun bercita-cita menjadi pilot ketika ia dewasa kelak. Karena dengan menjadi pilot berada di posisi yang tinggi, keren, dan gaji yang banyak pula. Sedangkan seorang pilot melihat ke bumi saat jelang landing, pandangannya tertuju ke anak-anak petani yang bermain di Padang yang terhampar luas, mereka berlarian bersama teman-temannya. Sang pilot pun merindukan suasana itu. Jenuh, dan mengeluh dengan rutinitasnya terbang dari suatu kota ke kota yang lain. Menghayal jadinya, pengen kembali menikmati seperti mereka. Sang pilot merasakan betapa ia tak sempat hidup tenang bersama dengan keluarga untuk berbagi cerita dan canda.
Singkatnya, seseorang berbahagia dan tenang bukan karena meraih dan memiliki segalanya. Seseorang berbahagia dan damai karena ia bersyukur dengan keadaannya. Maka, janganlah menunggu Anda berbahagia baru bersyukur. Tapi, bersyukurlah, niscaya Anda akan bahagia dan damai. Jika kita belum berbahagia, dan masih banyak mengeluh itu tandanya kita belum benar-benar bersyukur.
--------
Sepasang tangan yg menarikmu di kala terjatuh lebih patut dipercaya daripada seribu tangan yg menyambutmu di kala engkau berada di puncak kesuksesan.
-------
Sebelum Islam datang, masyarakat Sulawesi Selatan telah menganut sebuah sistem nilai dan aturan hidup yang disebut ade' (Bugis) atau ada' (Makassar, Mandar, Toraja). Dari sistem nilai itu dikenal ungkapan:
"narekko makkompe'i becci'e masolangngi lipue.- legga'i welong panasae massobbuni lempu'e - ri tongengenni salae, ripasalai tongengnge-si anre bale taue- si balu-balu, siabbelli-belliang. (Latoa).
Maknanya: Rusaknya suatu negeri apabila: aturan tidak lurus (aturan tidak ditegakkan), tidak memutik pucuk nangka (hilangnya kejujuran), yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan, manusia saling memangsa (terjadi hukum rimba) seperti ikan, saling membeli dan menjual (ditakar dengan materi).
-------
Toleransi dan persatuan tidak dibangun dari superioritas dan dominasi atas yang lainnya. Keduanya dibangun dari silaturrahim dan silatul fikri (dialog beretika). Superioritas dan dominasi cenderung melahirkan kekuasaan. Sedangkan logika kekuasaan seperti ini cenderung menekan potensi kekuasaan baru yang menjadi competitornya. Logika kompetisi acapkali - untuk tidak berkata selalu - gagal merangkai kolaborasi. Sedangkan logika kolaborasi sesungguhnya merupakan "saudara kembar" dari toleransi dan persatuan.
Berpikir sektarian hanya akan menciptakan ekslusifisme. Ekslusifisme mengundang kecurigaan. Jika sampai pada tahap kecurigaan yang berlebihan dan tak berdasarkan fakta kecurigaan akan berubah bentuk menjadi fitnah. Akibatnya, bisa lebih fatal dari pembunuhan. Karenanya, toleransi dan persatuan mesti dimulai dari silaturrahim dan dialog beretika (yang santun) untuk sebuah perjumpaan ide. Dari situlah titik temu dapat dirumuskan bersama, lalu disepakati. Keterlibatan akan mendorong rasa tanggung jawab bersama. Kalaupun tidak demikian, sekurang-kurangnya perrbedaan dan keragaman dapat dimaklumi dan disikapi bersma-sama secara bijak dan proporsional.
--------
Anak-anak laksana permata bagi orangtuanya. Sedangkan Keberadaan orangtua laksana mahkota bagi anak-anaknya. Anak-anak kadang baru merasakan pentingnya keberadaan mereka di saat mereka satu persatu meninggalkan. Keberadaannya laksana mahkota kesehatan yang diletakkan di atas kepala orang yang sehat, namun hanya tampak indah dalam penglihatan orang yang sedang sakit.
-------
SYUKUR SEBAGAI ANUGRAH
Bersyukur hanya bisa terjadi apabila Allah merestui dan menolong. Hal itu tampak pada firmanNya:
رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ
"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai."
(QS. An-Naml (27) : 19)
Ayat di atas merupakan petikan dari doa Nabi Sulaiman as.yang meminta taufik dari Allah agar mampu untuk bersyukur. "Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu.". Nabi Saw.pun mengajarkan untuk.berdoa memohon pertolongan dan taufik untuk selalu berzikir kepadaNya, mensyukuriNya, dan membaikkan ibadah hanya kepadaNya.
Ketika syukur itu telah meresap dalam hati dan menumbuhkan kerinduan dan kecintaan kepada Sang Pemberi Nikmat, maka nikmat itu bertambah sampai keadaan yang terkatakan lagi. Ketika Anda mampu berzikir, mampu bersyukur, dan beribadah dalam ketaatan, itu bukan karena Anda hebat dan saleh. Tetapi, sesungguhnya Allah yang menolong dan menganugrahkan kemampuan untuk senantiasa berzikir, besyukur, dan beribadah. Maka, bersukurlah dan teruslah mohon pertolongan agar tetap mampu bersyukur.
-------
*Mengapa perbaikan itu harus dimulai dari autokritik (muhasabah)?*
Alquran mengisyaratkan bahwa perubahan itu harus dimulai dari dalam (diri sendiri) atau autokritik. "Sesungguhnya Allah tidak (berkenan) mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka berikhtiar mengubah keadaan yang ada pada diri mereka..." (Qs. 13 : 11).
Perubahan yang efektif harus dimulai dari 'dalam'. Hal itu diisyaratkan pada kata "أنفسهم" yang menunjuk pada 'sisi dalam' yang ada pada manusia.
Pada tataran individu, perubahan berawal dari kesadaran. Kesadaran itu adanya di jiwa. Sadar itu berasal dari bahasa Arab صدر "shadrun" berarti dada atau jiwa.
Secara semiotik, Nabi Muhammad Saw. di"bedah" dadanya sehingga menjadi terang dalam jiwanya menerima kebenaran risalah dari Tuhannya. Perhatikan surah al-Insyirah.
Nabi Musa a.s. pun berdoa tatkala hendak berhadapan Fir'aun. Beliau meminta agar Allah berkenan mencerahkan jiwanya dan dimudahkan urusannya, sehingga mampu menghadapi logika dan argumen Fur'aun. Pada lafal doa itu ditunjuk kata صدري "shadriy" yang bermakna 'dada/jiwaku'.
Pusat kesadaran dan nilai itu pada manusia itu ada dalam jiwanya. Dari situlah perubahan dan perbaikan tepat dimulai. Diantara cara yang ditunjukkan Alquran yaitu muhasabah (renungan, autokritik)
.
Kesadaran tidak akan efektif jika dimulai dari materi. Justru, materi cenderung menjadi incaran nafsu belaka. Nafsu takkan pernah terpuaskan. Manusia disyariatkan dengan ibadah puasa sebagai pendidikan jiwa agar terbebas dari ketergantungan pada materi. Itu sebabnya, penyucian jiwa instrumennya adalah materi dengan beragam statusnya seperti zakat, infak, shadaqah, dsb. Jiwa yang merdeka adalah jiwa yang terbebas dari jebakan materi.
Hubungan jiwa dengan materi itu juga memang tak terpisahkan. Sebab, materi adalah instrumen pembersih jiwa. Ketika Alquran menuturkan "ambillah sebagian dari materi/harta mereka berupa zakat yang membersihkan harta dan jiwa mereka. Dan doakanlah mereka (para muzakki, mutashaddiq, munfiq), karena sesungguhnya doamu menghadirkan ketentraman jiwa mereka.
Semoga shadaqah untuk kebaikan dan puasa dilaksanakan tak terbatas sekadar sebagai rutinitas syariat, tetapi lebih dari itu, mampu memerdekakan jiwa dari belenggu materi semata.
Wallahu a'lam.
Samata 10 Muharram 1441 H.
---------
Terkadang ada:
1. yang memotivasi untuk bekerja keras demi meraih sukses.
2. yang memotivasi bekerja ikhlas untuk meraih ridha Allah, sukses dunia akhiratlah pokoknya.
3. yang memotivasi murid/anak agar cerdas dan kelak mereka bekerja cerdas untuk sukses.
3. yang memotivasi agar para pegawai/karyawan untuk bekerja tuntas.
Teridentifikasi bahwa:
Bekerja keras : wilayah fisik
Bekerja ikhlas : wilayah hati
Bekerja cerdas : wilayah otak
Bekerja tuntas : karakter kinerja.
Aspek mana yang prioritas? Fisik, hati, otak atau karakter? Semuanya harus dilatih terintegrasi agar manusia tumbuh dan berkembang secara utuh, tidak mengalami keterbelahan. Manusia adalah makhluk Tuhan yang unik dan "sempurna". Pendidikan tidak bertujuan untuk membelah manusia, tetapi mendidik secara utuh, simultan, dan seimbang. Itulah pembangunan manusia seutuhnya.
---------
Kadang kekurangan fisik mendorong manusia melampaui perhatiannya terhadap fisik. Lalu menemukan keunikan potensi dirinya. Ia pun melejit melampaui kompetensi manusia rata-rata. Ia menjadi manusia unik.
Kerap pula kesempurnaan fisik membuat tertuju dan terhenti perhatian pada fisik. Decak kagum atas fisik sempurna. Hingga pada waktunya fisik berubah dan terlambat menemukan keunikan potensi diri.
"The more you like yourself, the less you are like anyone else, which makes you unique".
(Walt Disney). "Semakin Anda menyukai diri Anda sendiri, semakin sedikit kemiripan Anda dengan orang lain, yang membuat Anda unik".
Semakin bersyukur, semakin unik nikmat Allah, semakin tersingkap kebesaran dan keagunganNya melalui keunikan makhluk. Percayalah, Anda adalah makhluk unik.
--------
*Usia dan penglihatan*
Secara umum, usia dan penglihatan manusia mempunyai hubungan pengaruh. Seiring pertambahan usia manusia terjadi pula perubahan pada kualitas penglihatan. Ketika awal terlahir (sebagai bayi), kualitas penglihatan belum maksimal. Begitu berlalu beberpa hari, minggu, bulan, hingga tahun maka kualitas penglihatan makin bertambah pula.
Hingga pada fase (usia) tertentu, karena berbagai sebab, penglihatan manusia kembali perlahan tapi pasti mengalami penurunan kualitas. Makin bertambah usianya makin berkurang pula kualitas penglihatan mata (minus). Hingga pada keadaan tertentu, dokter ahli kesehatan mata manyarankan untuk menggunakan alat bantu berupa kacamata (minus atau plus). Bahkan ada diantaranya yang tak dapat dibantu lagi, sehingga harus mengalami kondisi tak melihat, tidak seperti dahulu ketika muda.
Mengapa harus demikian? Ini adalah sunnatullah. Allah menggenggam rahasia itu. Manusia berusaha mengintip rahasia itu lewat isyarat Alquran. Ternyata, Allah mengurangi kualitas penglihatan mata terhadap terang dan silaunya dunia. Sebaliknya, Dia mengajarkan manusia agar memcerahkan mata hati/batinnya untuk menatap semakin dekatnya dan terangnya cahaya akhirat agar manusia tidak tersesat jalannya menuju kepadanya.
Terangnya dunia seringkali menyilaukan mata, sehingga tidak jelas arah tujuan. Sedangkan terangnya akhirat hanya bisa dijangkau oleh mata hati (iman dan takwa). Simaklah firman Allah " Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar)" (Qs. Al Isra' : 72).
-------
*Antara Wajib dan Sunnah*
Suatu ketika ada orang bertamu di sebuah kantor. Sebelumnya, ia telah menghubungi manajer perusahaan pada kantor tersebut. Ia bahkan telah mendapatkan persetujuan untuk datang pada jam tertentu. Baik, datang tepat waktu ya!, saya tunggu di kantor. Demikian saran manajer dengan intonasi dan gaya bahasa yang meyakinkan.
Tamu tersebut berusaha dengan semaksimal mungkin agar dapat tepat waktu. Target on time itulah menjadi target perjalanannya demi menepati janji. Alhamdulillah, benar ia tiba 5 menit lebih cepat. Ia menghirup napas lega diiringi ucapan syukur. Ia segera masuk dengan rasa percaya diri. Karena selain telah ada janji, ia pun masuk tepat pada jam yang disepakati.
Salah seorang perempuan mengaku staf kantor mendekati dan mempersilahkan masuk. Ia menanyakan apa tujuannya dan mau bertemu dengan siapa? Tegas ia menjawab bertemu dengan Bos. Manajer maksudnya. Ada janji Pak? Ya, ada. Jam 10 tepat, katanya. Oke, Pak. Saya beritahu dulu Bos.
Tunggu dulu Pak, ibu manajer lagi di musholla sedang shalat dhuha. Oh, ya ya.... Berselang 20 menit setelahnya mulai membuat penasaran. Kok, belum keluar menemui tamu atau mempersilahkan masuk ke ruangan. Stafnya kembali menemui, dan ternyata belum selesai. 10 menit lagi Pak ya.
Berlalu lebih 30 menit menunggu, belum ada panggilan masuk. Stafnya memberitahukan bahwa ibu manajer sedang mengaji dulu pak. Mohon ditunggu. Tamu itu sudah mulai tidak nyaman sudah hampir 1 jam menunggu. Ia pun berdiri dan memohon izin untuk meninggalkan kantor, ia memiliki agenda lain di tempat yang lain.
Saat keluar tiba-tiba sang manajer datang dan memanggil tamunya. Tamu itu kembali dengan wajah tak puas atas pelayanan apalagi agaenda di tempat lain sudah hampir tiba waktunya. Tentu hal ini membuat hati tamu itu serba salah, jika kembali memenuhi panggilan manajer, ia akan terlambat pada agenda lain.
************
Shalat dhuha dan mengaji itu bagus. Tetapi, melayani tamu dan menepati janji tepat waktu itu sangat penting. Shalat dhuha itu hukumnya sunnat. Memuliakan dan melayani tamu itu hukumnya wajib. Menepati janji itu hukumnya wajib pula. Mengabaikan tamu dan menyalahi janji itu dosa. Memburu pahala ibadah sunnat tetapi melalaikan kewajiban justru bisa menghadirkan dosa besar dan fitnah. Kenapa membuat janji lalu shalat dhuha dan mengaji.
Nabi sangat memberi perhatian terhadap tamunya. Sehingga beliau menghubungkan kualitas iman dengan sikap terhadap tamu: "barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah memuliakan tamunya". Di kali yang lain beliau menyebutkan : " tanda -tanda orang munafik ada 3: (1) bila berbicara, ia dusta; (2) bila berjanji, ia menyalahi janji dan; (3) bila diberi amanah, ia berkhianat.
--------
#Rezeki dan Nikmatnya Rezeki#
Rezeki setiap manusia memang tidak sama, dan tak pernah tertukar secara mutlak. Kalau
"terpaksa" tertukar atau pun dirampas atau sejenisnya , dan belum selesai di dunia maka pasti pelakunya bertanggungjawab memikul dan mengembalikan kepada korbannya di dunia.
Sekali lagi, rezeki setiap orang tidak selalu sama, bahkan tidak sama. Demikian pula nikmatnya rezeki Allah yang bagi. Tak jarang orang dinobatkan berada (kaya sebut saja begitu), tidak mutlak menikmati seluruh kepemilikannya sebelum meninggal. Yang ditinggalkan menjadi hak dan rezeki bagi ahli warisnya.
Allah yang membagi nikmat. Nasi bungkus misalnya, begitu nikmat luar biasa bagi orang miskin atau orang yang sangat lapar sampai berbunyi tenggorokannya (mattingkerrok:Bugis) saat usai makan atau sedang makan. Pertanda nikmatnya makanan itu. Maka, makanlah saat lapar. Demikian Nabi menuntun kita. Padahal, nasi bungkus bagi sebagian orang yang berpunya itu tidak dilirik atau bahkan bahkan karena dilarang oleh dokter demi mencegah diabetes tambah parah.
Islam mengatur pendistrisbusian harta dan penggunaannya, sebab di balik melepas rasa kepemilikan terhadap benda akan melahirkan kenikmatan yang tak tergambarkan dengan untaian verbal, sebab kenikmatan hanya dirasakan oleh jiwa. Penderitaan pun hanya ada dalam penderitaan jiwa. Seorang Nabi yang dimakan ulat fisiknya tak menderita jiwanya. Dan berbahagia menikmati kebersamaan dengan Rabbnya. Beliau adalah Nabi Ayyub a.s.
Ini tidak berarti dilarang menjadi kaya, bahkan sebaiknya menjadi kaya agar dapat melakukan banyak kebaikan dengan kekayaan itu. Tapi nikmat rezeki tidak selalu ada dalam kuantitas harta, bisa jadi ada pada rezeki harta yang tepat sasaran penggunaannya. Rezeki memang tak sama, tapi nikmatnya rezeki Allah yang bagi. Orang berpunya dan orang miskin berbeda cara menikmatinya.
---------
#VITALITAS AGAMA#
Agama tidak bisa diatur oleh kekuatan politik, agama tidak tumbuh dengan logika kekuasaan, tapi dengan logika kepercayaan. Daya tarik agama berbeda dengan daya tarik politik, sehingga penindasan terhadap agama justru kerap menyuburkan agama itu.
Agama mempunyai vitalitas (daya hidup) yang berbeda dengan politik. Kalau tidak muncul di permukaan, agama akan "bergerilya" di bawah. Agama laksana air, tidak bisa dibendung. Jika dibendung, ia akan selalu mencari jalan yang mengalir. (Kuntowijoyo, 1943 - 2005). Karena itu, negara dan agama tidak boleh berhadapan, melainkan berjalan searah. Maka, keduanya akan saling menguatkan.
Agama, semakin difitnah semakin tumbuh subur. Semakin diteror semakin kuat, Karena agama diyakini sebagai jalan keselamatan. Sedangkan keselamatan merupakan dambaan semua manusia.
--------
*Selubung Hati*
Selubung hati memiliki daya pesona yang kuat. Sehat, kuat, tahta, harta, kekuasaan kerap menjadi selubung hati. Fir'aun diselubungi hatinya oleh kekuasaan dan jabatan selama 400 th usianya. Qarun diselubungi hatinya oleh harta.
Nabi Ayyub a.s. dibuka selubung hatinya dengan penyakit. Nabi Yunus a.s. dibuka selubung.hatinya ketika ditelan ikan. Nabi Muhammad Saw. dibuka selubung hatinya dengan mewafatkan manusia-manusia yg menjadi sandarannya agar beliau hanya bersandar pada Allah.
Manusia beriman dibuka selubung hatinya dengan rasa lapar dan dahaga. Orang berpuasa dibuka selubung hatinya dengan menghilangkan rasa kepemilikannya yg berlebihan terhadap harta melalui zakat, shadaqah, infaq agar ia menyadari bhw harta akan musnah pada waktunya. Hanyalah Allah yg kekal.
Dengan membuka selubung hati, manusia akan menampakkan ego otentik (suara kebenaran dan kebaikan). Zakat dan permaafan sebagai pembuka selubung hati dari dengki, dendam, monopoli agar hati dan nuraninya tercerahkan untuk menyingkap cahaya Ilahi.
---------
*Semua penting*
Dalam sebuah masjid, banyak yang terlibat. Keterlibatan mereka semua penting. Panitia pembangunan telah berpikir dan bekerja keras untuk menghadirkan masjid yang nyaman bagi jamaah. Donatur dan penyumbang juga penting karena merekalah menyumbang sehingga sebuah masjid dapat dibangun. Tukang pun penting karena dengannya masjid dapat didirikan dengan kokoh dan berseni. Penyedia material dan bahan-bahan bangunan pun penting meski harus dibeli, sebab meski ada uang dan tukang jika bahannya tidak ada maka tidak bisa jadi terwujud pembangunan.
Setelah masjid dibangun maka bukan berarti segalanya telah selesai. Harus ada imam yang bersedia meluangkan waktu dan kemahirannya untuk memimpin jamaah untuk salat. Muazin pun tak kalah pentingnya, ia harus disiplin melakukan azan menandai masuk waktu salat. Jika karpet dan sajadah atau lantai kotor serta keran air wuduk yang macet /kosong airnya maka syarat sah salat tidak terpenuhi, maka marbot masjid juga punya peran penting dan menentukan.
Panitia amaliah ramadan pun tak ketinggalan beraksi, sebelum ramadan sudah bermusyawarah. Mereka Menyusun jadwal ceramah, imam, penyedia buka puasa. Menyediakan kotak amal, menghitung uang yang masuk, mendistribusi sesuai peruntukannya. Jika Penceramah berhalangan, maka yang pusing tujuh keliling adalah panitia. Jamaah juga penting kehadirannya, sebab penceramah pasti merasa tak elok jika berceramah tanpa pendengar/jamaah yang setia.
Semoga semua dipandang penting dan tak mengklaim diri paling penting. Mari menjadi orang penting dengan menempati dan mengambil peran masing-masing sesuai kapasitas.
---------
*Bersyukurlah, hidup akan jadi nikmat*
Kerap kali kita mengeluh tidak puas dengan kehidupan kita. Sementara, kita tidak sadar bahwa kehidupan kita menjadi impian orang lain. Mahasiswa misalnya, mengeluh karena padatnya jadwal kuliah. Saat itu anda harus sadari bahwa ribuan orang yang bermimpi menjadi mahasiswa, namun karena berbagai faktor mereka tak sempat mengalaminya. Andalah yang ditakdirkan untuk itu, syukuri. Ada jutaan pelamar CPNS bermimpi bekerja sebagai PNS, namun Andalah yang ditakdirkankan untuk itu. Syukuri.
Seorang anak petani sedang menatap ke langit dan melihat pesawat terbang di ketinggian. Ia pun bercita-cita menjadi pilot ketika ia dewasa kelak. Karena dengan menjadi pilot berada di posisi yang tinggi, keren, dan gaji yang banyak pula. Sedangkan seorang pilot melihat ke bumi saat jelang landing, pandangannya tertuju ke anak-anak petani yang bermain di Padang yang terhampar luas, mereka berlarian bersama teman-temannya. Sang pilot pun merindukan suasana itu. Jenuh, dan mengeluh dengan rutinitasnya terbang dari suatu kota ke kota yang lain. Menghayal jadinya, pengen kembali menikmati seperti mereka. Sang pilot merasakan betapa ia tak sempat hidup tenang bersama dengan keluarga untuk berbagi cerita dan canda.
Singkatnya, seseorang berbahagia dan tenang bukan karena meraih dan memiliki segalanya. Seseorang berbahagia dan damai karena ia bersyukur dengan keadaannya. Maka, janganlah menunggu Anda berbahagia baru bersyukur. Tapi, bersyukurlah, niscaya Anda akan bahagia dan damai. Jika kita belum berbahagia, dan masih banyak mengeluh itu tandanya kita belum benar-benar bersyukur.
--------
Sepasang tangan yg menarikmu di kala terjatuh lebih patut dipercaya daripada seribu tangan yg menyambutmu di kala engkau berada di puncak kesuksesan.
-------
Sebelum Islam datang, masyarakat Sulawesi Selatan telah menganut sebuah sistem nilai dan aturan hidup yang disebut ade' (Bugis) atau ada' (Makassar, Mandar, Toraja). Dari sistem nilai itu dikenal ungkapan:
"narekko makkompe'i becci'e masolangngi lipue.- legga'i welong panasae massobbuni lempu'e - ri tongengenni salae, ripasalai tongengnge-si anre bale taue- si balu-balu, siabbelli-belliang. (Latoa).
Maknanya: Rusaknya suatu negeri apabila: aturan tidak lurus (aturan tidak ditegakkan), tidak memutik pucuk nangka (hilangnya kejujuran), yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan, manusia saling memangsa (terjadi hukum rimba) seperti ikan, saling membeli dan menjual (ditakar dengan materi).
-------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar