Seorang tukang becak yg kesehariannya mangkal di ujung sebuah lorong. Saat ngantuk di waktu siang, ia naik dan berbaring setengah melengkung di atas becaknya. Malam hari adakalanya tidur disamping becaknya di atas sebuah meja. Ia tidur dgn nyenyak, hingga azan subuh dikumandangkan, ia segera bangun menuju tempat wudhu masjid lalu ikut salat berjamaah bersama jamaah yg lain. Ia benar-benar hidup dgn merasa aman dari incaran perampok meski keadaan yg demikian itu.
Sedang di tempat terpisah seorang yg kaya dgn mobil mewah bercerita dia merasa benar-benar merasa tdk aman dalam perjalanan atau saat di rumah, karena selalu jadi incaran penjahat. Bahkan, sering mendapatkan telepon gelap dan teror. Ia bersama keluarganya benar-benar merasa tdk nyaman dan tdk aman. Ia pun menceritakan bhw dirinya selalu was-was setiap hari ketika anak-anaknya ke sekolah karena khawatir disandera oleh org tak dikenal, lalu meminta tebusan atau anaknya terancam.
Dua fakta sosial seperti itu mengajarkan kepada kita bahwa terkadang Allah tdk memberi kekayaan tetapi Dia memberi nikmat "rasa aman". Sebaliknya, Allah mencabut rasa aman itu sebagai peringatan bahwa harta kekayaan yg salah urus bisa menjadi beban bg pemiliknya.
Kita mohon pada Tuhan yg memberi rasa aman dan memberi rezeki agar rezeki yg ada tdk menjadi bencana, semoga kita dianugerahi rezeki yg berkah yg menghadirkan
rasa aman. Zakat adalah ibadah yg menjadi sebab rasa aman bagi muzakkinya.
---------
Ketika menyimak biografi Para ilmuwan muslim (ulama) dari kalangan generasi awal, ternyata perjalanan intelektual mereka sungguh sebuah perjalanan jihad.
Mereka berguru pada sejumlah ulama yg ahli pada bidangnya masing-masing. Mereka berguru langsung, menyelesaikan beberapa kitab dari halaman sampul depan hingga halamana sampul belakang, menghafal, memahami dan terus pindah pada kitab berikutnya.
Setelah memahami pikiran ulama/ gurunya dan memahami kitab-kitab mereka,mereka kemudian mendapatkan pengakuan, lalu diijazahkan untuk berfatwa dan mengajarkan ilmu mereka berikut kitabnya.
Mereka melanjutkan lawatan ilmiah mencari guru berikutnya dan menyelami kitab kitabnya. Begitu seterusnya, hingga diijaazahkan dan berhak berfatwa dan mengajarkannya.
Mereka menuntut ilmu tdk meninggalkan gaji pokok, dan tdk mendapatkan beasiswa. Bahkan, Ada yg menjual rumahnya dan aset lainnya untuk biaya perjalanan dan bekal menuntut ilmu - bukan ber sekolah untuk membeli rumah - Mereka kembali membawa sejumlah kitab dan secarik kertas ijazah pengakuan gurunya untuk mengajarkan ilmu dan berfatwa.
Mereka mengajar dan menulis serta melahirkan beberapa murid dan karya-karya monumental yg menembus zaman hingga hitungan abad lamanya.
Sungguh Tinta pena mereka betapa mulia melebihi tetesan darah para syuhada'.
Beberapa diantara mereka dipaksa oleh penguasa agar mereka mau memegang jabatan, bahkan diancam namun mereka menolak selama mereka kuat untuk menolaknya.
Pertimbangan mereka adalah agar mereka dapat fokus mengajarkan ilmu dan berkarya. Disamping karena mereka paham bahwa jabatan adalah amanah yg amat berat untuk dipertanggungjawaban di hadapan Rabbnya. Menerimanya jika sudah dipertimbangkan seraya beristikharah memohon kebaikannya dan kemaslahatannya.
(Sebuah Renungan Pembanding u/saat ini)
---------
Jika belajar adalah jihad ...,,
Jika menuntut ilmu adalah ibadah...
Jika menuntut ilmu adalah perintah Allah...
Jika menuntut ilmu meninggikan derajat...
Maka:
Ijazah bukan tanda untuk mengakhiri proses pembelajaran...
--------
Bila takbir, rukuk, sujud, dan duduk hanya untuk menggugurkan kewajiban, maka kebesaran/arogansi dan egoisme tetap menjadi karakter pelakunya.
Bila takbir, rukuk, sujud, dan duduk adalah pengakuan seorang hamba yang salat terhadap kebesaran Rabbnya dan kefanaan dirinya, maka salat akan menghadirkan rasa penghambaan yg hakiki dan instrumen mencegah segala fahsya' dan munkar.
Takbir menghilangkan takabbur, rukuk sbg ekspresi penghormatan, sujud sebagai manifestasi penghambaan, dan duduk menandakan penuh pengharapan, maka Allah mendidik dan menuntun ke jalan-Nya.
--------
"Tiada amal yg lebih berpeluang diterima daripada amal yg tdk kau sadari dan sepele di matamu" (syarh Al Hikam).
Amal besar yg pelakunya berbangga diri atas amal itu bisa kecil nilainya, bahkan tak bernilai di sisi-Nya. Sebaliknya, amal kecil dan sepele yg telah dilupakan oleh pelakunya bahkan tak pernah disebut, bisa jadi nilainya besar di sisi-Nya.
Allah di dalam Qs al-Ikhlas mengajarkan "Allah adalah tempat bergantung/berharap". Manusia tdk bergantung pada amalnya. Amal tdk lain adalah bentuk pembuktian ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya.
Tugas hamba-Nya adalah beramal karena-Nya dan bergantung/berharap hanya pada-Nya.
--------
Tidak perlu terlalu takut untuk mencoba sesuatu hal yg baik lantaran takut terjatuh. Boleh jadi orang yg pernah terjatuh lebih kuat daripada org yg tdk pernah jatuh. Bukankah kita dahulu awal belajar berjalan selalu terjatuh lalu berpindah tempat dan kini menjadi kuat?
--------
Manusia "diadu domba" itu pasti perilaku yg tdk manusiawi. Manusia yg bermartabat tdk akan mgk mengadu domba manusia dan tidak akan mau diadu seperti domba. Manusia bukan sejenis binatang yang bernama "domba".
------
Merasakan lembutnya sentuhan takdir di setiap syukur. Merasakan kestabilan jiwa di setiap zikir. Memetik berkah di setiap manfaat yg disebar.
------
Demokrasi adalah pisau, jangan salah menggunakannya,nanti penggunanya sendiri yg teriris. Pelajari cara penggunaannya, agar benar-benar jadi alat, bukan memperalat.
-------
Berdakwah tdk selalu bermakna mengajak kepada satu paham dan satu mazhab. Dai boleh-boleh saja meyakini dirinya benar, tetapi tdk boleh mengklaim dirinya yg paling benar diantara semua paham dan mazhab yg ada, apalagi menuduh yg lain yg sesat. Sebab, ia sendiri tdk mampu menjamin dirinya sebagai org yg paling selamat dan paling saleh di hadapan Tuhan, bahkan ia masih diadili/dihisab pada hari perhitungan (yaumul hisab). Surga ciptaan Tuhan 'terlalu luas' untuk dimonopoli oleh satu mazhab saja. Surga pun mempunyai banyak tingkatan dan beberapa pintu.
-------
Ketika seseorang melihat perpaduan warna pelangi yg indah, ia mendatangi tempat berdirinya pelangi. Ia terus berjalan menuju tempat pelangi, tetapi ia tak pernah menjangkau hakikat pelangi itu.
Saking indahnya pelangi itu, anak-anak TK diajari menggambar pelangi dengan perpaduan warnanya yg indah. Gambar itu, lagi lagi bukanlah hakikat pelangi, ia tdk lebih dari kreasi imajinasi tentang pelangi.
Karena tak dapat dicapai hakikatnya dengan gambar, maka anak-anak TK diajak menikmati indahnya pelangi dengan menyanyikan bersama. "Pelangi-pelangi alangkah indahnya. Merah, kuning, hijau di langit yg biru...,
Pelangi-pelangi Ciptaan Tuhan".
Ternyata, indahnya perpaduan warna pelangi itu baru ditemukan pada ujung lagu itu "Ciptaan Tuhan". Yakni, ketika menghubungkan antara pelangi dan Penciptanya.
Nah, Kalau pelangi itu dianalogikan dengan dunia, maka dunia itu terlihat indah pernak perniknya. Ketika manusia mengejarnya maka laksana memburu pelangi, ia tidak bisa mencapai hakikatnya. Hakikat itu akan dicapai ketika diformulasikan dalam kalimat zikir dalam lisan, hati, dan prilaku/amal saleh. Makna itu akan tersimpul dalam kalimat "Rabbanaa Maa Khalaqta hadzaa baatilan" Ya Allah, tdk yg Engkau ciptakan sesuatu pun yg sia-sia tanpa makna. Allah Akbar....
Pemburu dunia selamanya tdk akan pernah sampai pada hakikat, karena segala sesuatu itu hanyalah simbol yg memiliki makna, yakni ayat Tuhan yg terhampar. Maka, "bacalah dgn (menghubungkan) nama Tuhanmu yg telah menciptakan" (Q.S. AL-'Alaq: 1) Wallahu a'lam.
---------
BAGIAN PERTAMA
Kesuksesan, keadaan diri, dan kebaikan yg dihujani pujian seringkali melalaikan. Bahkan, pujian dapat "memaksa" seseorang memulai kepalsuan untuk memperoleh pujian-pujian berikutnya. Sebaliknya, Kritikan yg proporsional dapat membangunkan untuk bertindak lebih tepat.
Maka, berhati-hatilah jika menerima pujian, dan bersikap tenanglah terhadap kritikan. Sebab, acapkali pujian -apalagi sekedar basa-basi- lebih berbahaya daripada kritikan yg tulus dan proporsional.
Agama mengajarkan, apabila mendapat pujian dari manusia, maka kita merespon dengan segera memuji Allah. "Sesungguhnya segala pujian itu milik Allah". Alhamdulillah, jika kita melakukan hal-hal yg terpuji, maka itu tuntunan-Nya, karena itu, Dia lebih patut mendapatkan segala pujian. Alhamdulillah...,
Agama juga melarang dan mencegah manusia melakukan suatu kebaikan untuk menjadikan pujian manusia sebagai tujuannya. Kalaupun manusia menyanjung dan memujinya, itu tetap Responnya "alhamdulillah" sehingga pujiannya itu tdk melalaikan.
--------
BAGIAN KEDUA
Pada prinsipnya, setiap manusia secara normal, senang menerima pujian dan tidak rela menerima celaan/makian. Dan, Salah satu tanda kemurahan hati seseorang terlihat antara lain senang memuji secara wajar.
Jika seseorang tidak senang memberi pujian kepada orang tertentu karena alasan tertentu, maka tetap ia dianjurkan menahan diri untuk tdk melontarkan celaan terlebih di depan khalayak.
Maka, salah satu tuntunan agama yaitu, "setiap tempat ada perkataan yg tepat, dan setiap perkataan ada tempatnya (yg tepat)". Boleh jadi, pernyataan seseorang benar adanya, tetapi disampaikan pada konteks yg tdk tepat sehingga tertolak.
Alquran menganjurkan untuk menyampaikan kebenaran dgn cara yg ma'ruf, yaitu penuh kearifan dlm menyampaikan kebaikan dan kebenaran dgn memperhatikan konteks penyampaiannya.
Singkatnya, memuji kebaikan orang lain adalah sikap yg manusiawi selama diberikan secara wajar. Dan, bagi pihak yg menerima pujian sepatutnya segera menyampaikan pujian itu kepada Allah, "segala puji milik Allah". Itulah sikap orang yg bersyukur tatkala menerima pujian dari manusia.
--------
WAKTU KITA ADALAH SEKARANG
Kita kadang menyita energi karena memikirkan "masa lalu" dan "masa depan". Padahal, masa lalu telah tiada dan hanya menyisakan kenangan yg semestinya menghadirkan kearifan hidup untuk hari ini.
Sementara masa depan, masa penuh misteri dan ketidakpastian, hanya Tuhan yg tau pasti. Kita kadang tdk menikmati hidup hari ini karena mengkhawatirkan masa depan termasuk masa depan anak-anak. Seolah kita ingin hidup dimasa itu selamanya.
Karena itu, berdamailah dengan masa lalu,lepaskan ia dgn tulus dan terima pelajaran yg pernah ada bersamanya. Tak perlu berlebihan mengkhawatirkan masa depan. Hiduplah hari ini dan ikhlaskan jiwa untuk merencanakan dan mengerjakan yg menjadi tugas-tugas kita secara wajar. Insya Allah hidup ini bukanlah beban, melainkan kesempatan melakukan yg terbaik secara wajar.
--------
Manusia, semuanya tinggal di atas hamparan tanah dan beratapkan langit. Lalu, karena mereka makhluk berbudaya, mereka membuat "tempat-tempat kecil" (rumah-rumah) untuk berteduh dari sengatan matahari di siang hari dan berlindung dari hujan atau dari dingin yg mencekam di malam hari.
Di dalam ruang kecil (rumah) itulah mereka hidup berkelompok dan membina rumah tangga. Namun, tidak kurang yg tertipu saat melihat dirinya lebih besar/tinggi krn memiliki tempat tinggal yg mewah (rumah besar). Padahal, awalnya manusia semua sama-sama hidup di atas hamparan tanah dan di bawah langit.
Dari ruang-ruang kecil (rumah) mereka dianjurkan untuk saling mengunjungi dan bersilaturrahim. Ketika mereka sudah tdk sanggup bersilaturahim "dari Door to Door" maka berbagai cara yg dilakukan; berupa reuni (kembali merajut tali kasih). Bahkan, perjanjian antara keluarga memilih suatu titik di alam ini (di luar rumah) untuk kembali merajut tali kasih diantara mereka.
Maka, rumah bersama yg sesungguhnya adalah alam raya yg beratapkan langit. krn rumah-rumah yg dibuat manusia adalah tempat-tempat yg membuat perbedaan di antara mereka. Mereka kadang saling mengukur perbedaan nilai/status sosial berdasarkan kadar ruang-ruang kecil (rumah) yg mereka buat sendiri.
Di sisi Allah, derajat kemuliaan diukur berdasarkan kualitas dan derajat ketakwaannya di titik/di posisi manapun di bumi ini dan di bawah langit manapun mereka berada. Wallahu a'lam...
--------
Ketika Dia (Allah) memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasa-Nya.
Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri padamu dan mendatangimu lewat kelembutan-Nya. (Ibnu Atha'illah)
Jika engkau berdoa memohon sesuatu, lalu engkau mendapakannya, maka Allah memberimu makrifat bahwa Dia Maha Baik.
Jika engkau memohon kepada-Nya, lalu tak kunjung terwujud, maka Dia hadir menyapamu dengan kelembutan-Nya memberimu makrifat bahwa Dia maha Kuasa.
Bukalah pandangan mata batinmu, niscaya engkau menyaksikan kehadiran-Nya dalam setiap untaian doamu. Wallahu a'lam.
--------
Ketika penyakit "Cinta Dunia" tengah melanda seseorang, maka standar "kepatutan" (asitinajang) tidak menjadi pertimbangan.
Petuah leluhur Bugis mengatakan: "Alai cedde'e risesena engkai mappedeceng. Nenniya sampeangngi Maegae risesena engkai makkasolang".
Inilah prinsip/asas "maslahat" dan "mafsadat" dalam kearifan lokal masyarakat Bugis. Masihkah ini bertahan atau sdh tergerus oleh persaingan yg kejam dan oleh hedonisme atau sistem kapitalisme?
---------
Diantara bukti benarnya iman seorang Mukmin adalah ketika ia mampu merasakan lembutnya sentuhan takdir Allah di setiap musibah dan nikmat.
-------
Hidup ini bukanlah untuk dikeluhkan. Andaikan mengeluh itu dapat menyelesaikan masalah, maka tentu org yg paling banyak mengeluh yg paling berbahagia. Akan tetapi, mengeluh hanyalah menambah daftar masalah.dan makin menjauhkan dari rasa bahagia, karena Tertipu oleh persepsi sendiri.
Yg menipu adalah persepsi yg keliru yg diyakini kebenarannya atau kebenaran yg diragukan. Pikiran keliru dan keraguan adalah hal yg banyak menyibukkan dan menyita energi dan waktu.
Ketika itulah agama hadir meluruskan persepsi yg keliru dan mengubah keraguan menjadi keyakinan yg tersimpul dalam kalimat "syahadat" yg menunjukkan keyakinannya tanpa sedikitpun keraguan. Dan, Inilah pondasi utama beragama Islam.
---------
Manusia acapkali mengerahkan energi dan waktunya tuk membangun argumen pembenaran, sehinga tersisa sedikit, bahkan kehabisan waktu dan energi tuk menyibukkan diri dgn kebenaran dan kejujuran",
--------
LAKSANA GARAM: Semua memaklumi bahwa bahan baku garam adalah air asin atau air laut. Tatkala ia berubah dari zat cair menjadi benda padat dengan tetap pada rasa asin itulah berubah nama menjadi garam. Garam memiliki banyak fungsi dan manfaat. Ketiadaan garam dalam sebuah menu makanan sering dicari karena keberadaannya menentukan kesempurnaan rasa, dan ketiadaan nya dipastikan menjadikan menu tertentu menjadi tdk sempurna. Tatkala kita hendak makan coto misalnya, garam hampir tdk pernah disebut namanya, krn seseorang tdk pernah menyebut "makan garam" kecuali jika ia tdk ada maka ia dicari. Betapapun sebuah masakan dibuat dengan sempurna tanpa garam, makanan tersebut tetap tdk sempurna rasanya. Orang lagi-lagi hanya menyebut coto, tdk garam. Demikian pula sayur, tdk disebut garam. Padahal, tanpa garam pada kedua masakan itu, rasanya tdk enak, kehadiran garam menentukan rasa. Dalam konteks kehidupan manusia, dalam kebersamaannya mungkin ada manusia yg tulus keberadaannya laksana garam, ia tdk diperhitungkan, tdk disebut, tetapi keberadaannya menentukan kesempurnaan kebersamaan dlm kelompok atau komunitas. Tatkala ia tdk ada, terasa betapa tdk sempurnanya kebersamaan. Terkadang keberadaannya tdk terlihat namun sangat jelas terasa dan menentukan rasa kebersamaan. Laksana garam dlm sebuah masakan coto, garam tdk terlihat tatkala ia larut dlm kebersamaan zat lain dlm air, garam tdk tampak lagi tapi terasa bahkan menentukan rasa. Dlm hidup ini terkadang org yg populer dan dielus-elus padahal perannya tdk maksimal. Sebaliknya, boleh jadi ada org yg tdk tampak dan tdk disebut-sebut, bahkan ia menyembunyikan kebaikannya, padahal ia tulus memberi makna, bahkan menentukan kesempurnaan hidup. Dengan demikian, jangan iri tatkala orang populer, sebab boleh jadi dgn jln hidup yg sunyi, Allah hendak menjaga dari riya yg justru merusak amal. Para wali Alllah beramal dan berikhtiar merahasiakan amal kebaikannya. Wallahu a'lam.
-------
Dunia adalah bayang-bayang yang terkadang menipu. Wujud segala sesuatu (selain Allah) laksana bayang pepohonan di atas air. Ia (semestinya) tidak dapat menghalangi perjalanan perahu di air tersebut.
Banyak orang tertipu, sehingga terhenti tatkala menatap bayang-bayang dunia, ia tidak melanjutkan perjalanan menuju Rabbnya. Terhentinya dan tidak sampai hamba kepada Rabbnya karena tertipu oleh bayang-bayang yang menghijab (merintangi) perjalanannya.
Manusia sibuk dan menghabiskan waktunya memikirkan bayang-bayang yang menipu. Ada manusia berlimpah materi duniawi atau orang papa namun ia memahami bahwa itu hanyalah ilusi sehingga mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai tujuan (Rabbnya). Seperti halnya pula banyak orang kaya dan orang miskin terhenti dan hanya sibuk mengurusi bayang-bayang (dunia).
Hal ini senada firman Allah "Dan kehidupan dunia ini tidak lain, hanyalah kesenangan yang menipu" (Qs. al-Hadid: 20), Tidaklah merugi orang meraih kesenangannya selama ia tidak tertipu, sebaliknya, merugilah orang menghabiskan waktu dalam tipuan.
-------
Terkadang hidup yg kita keluhkan sesungguhnya adalah hidup yg diinginkan oleh orang lain. Seseorang sering mengeluhkan kendaraan miliknya yang tidak mewah, terkadang orang lain menginginkan keadaan itu, karena ia belum memilikinya. seseorang adakalanya mengeluhkan karena ia kelelahan berjalan kaki, justru keadaan itu diinginkan oleh orang yang tidak memiliki kaki dst.
Orang kadang mengeluhkan keadaan tempat tinggalnya yang dinilainya tidak mewah, justru keadaan itu diinginkan oleh orang yang tidak memiliki rumah sendiri, sehingga harus ngontrak. Mampu mengontrak sendiri rumah kadang menjadi keinginan bagi orang tertentu yg terpaksa numpang dirumah orang lain dalam keadaan terus merasakan beban dan berat hati.
Hati yang tidak pernah bersyukur akan terus menderita walaupun keadaannya sudah layak menurut orang lain. Sebaliknya, hati yang terus memanjatkan syukur akan terus merasakan sebuahk kebahagiaan yang mengakrabi hidupnya. Allah mengingatkan: "Jika kalian bersyukur niscaya Aku tambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu ingkar (kufur nikmat), ingatlah, sesungguhnya azabKu amat pedih".
--------
Ragam ujian merupakan hamparan anugerah. Variasi ujian dari Allah laksana hamparan permadani yg dipenuhi karunia Ilahi bagi yg duduk di atasnya. Sebagaimana halnya org yg duduk di atas permadani raja, ia tentu mendapatkan kenikmatan yang diberikan oleh raja kepadanya.
Ujian dari Allah berupa kesulitan membuat seorang hamba selalu hadir bersama dengan-Nya, dan Dia mendudukkannya di permadani ketulusan. Pada saat hadir itulah, hamba akan diberikan karunia rabbani dan embusan kasih dan sayang-Nya.
Sebagaimana kata Ibn Atha'illah, "jika kau mengharapkan datangnya karunia, luruskan rasa papa dan butuh pada dirimu, karena " Sedekah hanya diberikan kepada yg fakir". (Qs. al-Taubah: 60).
Di hadapan manusia kita dianjurkan mencontoh sifat-Nya, yaitu "memberi" (apa yang bermanfaat, berupa ilmu, harta, dll,), namun di hadapan Allah kita semestinya menjadi papa dan fakir agar kita berhak mendapat limpahan anugerah dan kasih-Nya. Wallahu a lam.
--------
Sedang di tempat terpisah seorang yg kaya dgn mobil mewah bercerita dia merasa benar-benar merasa tdk aman dalam perjalanan atau saat di rumah, karena selalu jadi incaran penjahat. Bahkan, sering mendapatkan telepon gelap dan teror. Ia bersama keluarganya benar-benar merasa tdk nyaman dan tdk aman. Ia pun menceritakan bhw dirinya selalu was-was setiap hari ketika anak-anaknya ke sekolah karena khawatir disandera oleh org tak dikenal, lalu meminta tebusan atau anaknya terancam.
Dua fakta sosial seperti itu mengajarkan kepada kita bahwa terkadang Allah tdk memberi kekayaan tetapi Dia memberi nikmat "rasa aman". Sebaliknya, Allah mencabut rasa aman itu sebagai peringatan bahwa harta kekayaan yg salah urus bisa menjadi beban bg pemiliknya.
Kita mohon pada Tuhan yg memberi rasa aman dan memberi rezeki agar rezeki yg ada tdk menjadi bencana, semoga kita dianugerahi rezeki yg berkah yg menghadirkan
rasa aman. Zakat adalah ibadah yg menjadi sebab rasa aman bagi muzakkinya.
---------
Ketika menyimak biografi Para ilmuwan muslim (ulama) dari kalangan generasi awal, ternyata perjalanan intelektual mereka sungguh sebuah perjalanan jihad.
Mereka berguru pada sejumlah ulama yg ahli pada bidangnya masing-masing. Mereka berguru langsung, menyelesaikan beberapa kitab dari halaman sampul depan hingga halamana sampul belakang, menghafal, memahami dan terus pindah pada kitab berikutnya.
Setelah memahami pikiran ulama/ gurunya dan memahami kitab-kitab mereka,mereka kemudian mendapatkan pengakuan, lalu diijazahkan untuk berfatwa dan mengajarkan ilmu mereka berikut kitabnya.
Mereka melanjutkan lawatan ilmiah mencari guru berikutnya dan menyelami kitab kitabnya. Begitu seterusnya, hingga diijaazahkan dan berhak berfatwa dan mengajarkannya.
Mereka menuntut ilmu tdk meninggalkan gaji pokok, dan tdk mendapatkan beasiswa. Bahkan, Ada yg menjual rumahnya dan aset lainnya untuk biaya perjalanan dan bekal menuntut ilmu - bukan ber sekolah untuk membeli rumah - Mereka kembali membawa sejumlah kitab dan secarik kertas ijazah pengakuan gurunya untuk mengajarkan ilmu dan berfatwa.
Mereka mengajar dan menulis serta melahirkan beberapa murid dan karya-karya monumental yg menembus zaman hingga hitungan abad lamanya.
Sungguh Tinta pena mereka betapa mulia melebihi tetesan darah para syuhada'.
Beberapa diantara mereka dipaksa oleh penguasa agar mereka mau memegang jabatan, bahkan diancam namun mereka menolak selama mereka kuat untuk menolaknya.
Pertimbangan mereka adalah agar mereka dapat fokus mengajarkan ilmu dan berkarya. Disamping karena mereka paham bahwa jabatan adalah amanah yg amat berat untuk dipertanggungjawaban di hadapan Rabbnya. Menerimanya jika sudah dipertimbangkan seraya beristikharah memohon kebaikannya dan kemaslahatannya.
(Sebuah Renungan Pembanding u/saat ini)
---------
Jika belajar adalah jihad ...,,
Jika menuntut ilmu adalah ibadah...
Jika menuntut ilmu adalah perintah Allah...
Jika menuntut ilmu meninggikan derajat...
Maka:
Ijazah bukan tanda untuk mengakhiri proses pembelajaran...
--------
Bila takbir, rukuk, sujud, dan duduk hanya untuk menggugurkan kewajiban, maka kebesaran/arogansi dan egoisme tetap menjadi karakter pelakunya.
Bila takbir, rukuk, sujud, dan duduk adalah pengakuan seorang hamba yang salat terhadap kebesaran Rabbnya dan kefanaan dirinya, maka salat akan menghadirkan rasa penghambaan yg hakiki dan instrumen mencegah segala fahsya' dan munkar.
Takbir menghilangkan takabbur, rukuk sbg ekspresi penghormatan, sujud sebagai manifestasi penghambaan, dan duduk menandakan penuh pengharapan, maka Allah mendidik dan menuntun ke jalan-Nya.
--------
"Tiada amal yg lebih berpeluang diterima daripada amal yg tdk kau sadari dan sepele di matamu" (syarh Al Hikam).
Amal besar yg pelakunya berbangga diri atas amal itu bisa kecil nilainya, bahkan tak bernilai di sisi-Nya. Sebaliknya, amal kecil dan sepele yg telah dilupakan oleh pelakunya bahkan tak pernah disebut, bisa jadi nilainya besar di sisi-Nya.
Allah di dalam Qs al-Ikhlas mengajarkan "Allah adalah tempat bergantung/berharap". Manusia tdk bergantung pada amalnya. Amal tdk lain adalah bentuk pembuktian ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya.
Tugas hamba-Nya adalah beramal karena-Nya dan bergantung/berharap hanya pada-Nya.
--------
Tidak perlu terlalu takut untuk mencoba sesuatu hal yg baik lantaran takut terjatuh. Boleh jadi orang yg pernah terjatuh lebih kuat daripada org yg tdk pernah jatuh. Bukankah kita dahulu awal belajar berjalan selalu terjatuh lalu berpindah tempat dan kini menjadi kuat?
--------
Manusia "diadu domba" itu pasti perilaku yg tdk manusiawi. Manusia yg bermartabat tdk akan mgk mengadu domba manusia dan tidak akan mau diadu seperti domba. Manusia bukan sejenis binatang yang bernama "domba".
------
Merasakan lembutnya sentuhan takdir di setiap syukur. Merasakan kestabilan jiwa di setiap zikir. Memetik berkah di setiap manfaat yg disebar.
------
Demokrasi adalah pisau, jangan salah menggunakannya,nanti penggunanya sendiri yg teriris. Pelajari cara penggunaannya, agar benar-benar jadi alat, bukan memperalat.
-------
Berdakwah tdk selalu bermakna mengajak kepada satu paham dan satu mazhab. Dai boleh-boleh saja meyakini dirinya benar, tetapi tdk boleh mengklaim dirinya yg paling benar diantara semua paham dan mazhab yg ada, apalagi menuduh yg lain yg sesat. Sebab, ia sendiri tdk mampu menjamin dirinya sebagai org yg paling selamat dan paling saleh di hadapan Tuhan, bahkan ia masih diadili/dihisab pada hari perhitungan (yaumul hisab). Surga ciptaan Tuhan 'terlalu luas' untuk dimonopoli oleh satu mazhab saja. Surga pun mempunyai banyak tingkatan dan beberapa pintu.
-------
Ketika seseorang melihat perpaduan warna pelangi yg indah, ia mendatangi tempat berdirinya pelangi. Ia terus berjalan menuju tempat pelangi, tetapi ia tak pernah menjangkau hakikat pelangi itu.
Saking indahnya pelangi itu, anak-anak TK diajari menggambar pelangi dengan perpaduan warnanya yg indah. Gambar itu, lagi lagi bukanlah hakikat pelangi, ia tdk lebih dari kreasi imajinasi tentang pelangi.
Karena tak dapat dicapai hakikatnya dengan gambar, maka anak-anak TK diajak menikmati indahnya pelangi dengan menyanyikan bersama. "Pelangi-pelangi alangkah indahnya. Merah, kuning, hijau di langit yg biru...,
Pelangi-pelangi Ciptaan Tuhan".
Ternyata, indahnya perpaduan warna pelangi itu baru ditemukan pada ujung lagu itu "Ciptaan Tuhan". Yakni, ketika menghubungkan antara pelangi dan Penciptanya.
Nah, Kalau pelangi itu dianalogikan dengan dunia, maka dunia itu terlihat indah pernak perniknya. Ketika manusia mengejarnya maka laksana memburu pelangi, ia tidak bisa mencapai hakikatnya. Hakikat itu akan dicapai ketika diformulasikan dalam kalimat zikir dalam lisan, hati, dan prilaku/amal saleh. Makna itu akan tersimpul dalam kalimat "Rabbanaa Maa Khalaqta hadzaa baatilan" Ya Allah, tdk yg Engkau ciptakan sesuatu pun yg sia-sia tanpa makna. Allah Akbar....
Pemburu dunia selamanya tdk akan pernah sampai pada hakikat, karena segala sesuatu itu hanyalah simbol yg memiliki makna, yakni ayat Tuhan yg terhampar. Maka, "bacalah dgn (menghubungkan) nama Tuhanmu yg telah menciptakan" (Q.S. AL-'Alaq: 1) Wallahu a'lam.
---------
BAGIAN PERTAMA
Kesuksesan, keadaan diri, dan kebaikan yg dihujani pujian seringkali melalaikan. Bahkan, pujian dapat "memaksa" seseorang memulai kepalsuan untuk memperoleh pujian-pujian berikutnya. Sebaliknya, Kritikan yg proporsional dapat membangunkan untuk bertindak lebih tepat.
Maka, berhati-hatilah jika menerima pujian, dan bersikap tenanglah terhadap kritikan. Sebab, acapkali pujian -apalagi sekedar basa-basi- lebih berbahaya daripada kritikan yg tulus dan proporsional.
Agama mengajarkan, apabila mendapat pujian dari manusia, maka kita merespon dengan segera memuji Allah. "Sesungguhnya segala pujian itu milik Allah". Alhamdulillah, jika kita melakukan hal-hal yg terpuji, maka itu tuntunan-Nya, karena itu, Dia lebih patut mendapatkan segala pujian. Alhamdulillah...,
Agama juga melarang dan mencegah manusia melakukan suatu kebaikan untuk menjadikan pujian manusia sebagai tujuannya. Kalaupun manusia menyanjung dan memujinya, itu tetap Responnya "alhamdulillah" sehingga pujiannya itu tdk melalaikan.
--------
BAGIAN KEDUA
Pada prinsipnya, setiap manusia secara normal, senang menerima pujian dan tidak rela menerima celaan/makian. Dan, Salah satu tanda kemurahan hati seseorang terlihat antara lain senang memuji secara wajar.
Jika seseorang tidak senang memberi pujian kepada orang tertentu karena alasan tertentu, maka tetap ia dianjurkan menahan diri untuk tdk melontarkan celaan terlebih di depan khalayak.
Maka, salah satu tuntunan agama yaitu, "setiap tempat ada perkataan yg tepat, dan setiap perkataan ada tempatnya (yg tepat)". Boleh jadi, pernyataan seseorang benar adanya, tetapi disampaikan pada konteks yg tdk tepat sehingga tertolak.
Alquran menganjurkan untuk menyampaikan kebenaran dgn cara yg ma'ruf, yaitu penuh kearifan dlm menyampaikan kebaikan dan kebenaran dgn memperhatikan konteks penyampaiannya.
Singkatnya, memuji kebaikan orang lain adalah sikap yg manusiawi selama diberikan secara wajar. Dan, bagi pihak yg menerima pujian sepatutnya segera menyampaikan pujian itu kepada Allah, "segala puji milik Allah". Itulah sikap orang yg bersyukur tatkala menerima pujian dari manusia.
--------
WAKTU KITA ADALAH SEKARANG
Kita kadang menyita energi karena memikirkan "masa lalu" dan "masa depan". Padahal, masa lalu telah tiada dan hanya menyisakan kenangan yg semestinya menghadirkan kearifan hidup untuk hari ini.
Sementara masa depan, masa penuh misteri dan ketidakpastian, hanya Tuhan yg tau pasti. Kita kadang tdk menikmati hidup hari ini karena mengkhawatirkan masa depan termasuk masa depan anak-anak. Seolah kita ingin hidup dimasa itu selamanya.
Karena itu, berdamailah dengan masa lalu,lepaskan ia dgn tulus dan terima pelajaran yg pernah ada bersamanya. Tak perlu berlebihan mengkhawatirkan masa depan. Hiduplah hari ini dan ikhlaskan jiwa untuk merencanakan dan mengerjakan yg menjadi tugas-tugas kita secara wajar. Insya Allah hidup ini bukanlah beban, melainkan kesempatan melakukan yg terbaik secara wajar.
--------
Manusia, semuanya tinggal di atas hamparan tanah dan beratapkan langit. Lalu, karena mereka makhluk berbudaya, mereka membuat "tempat-tempat kecil" (rumah-rumah) untuk berteduh dari sengatan matahari di siang hari dan berlindung dari hujan atau dari dingin yg mencekam di malam hari.
Di dalam ruang kecil (rumah) itulah mereka hidup berkelompok dan membina rumah tangga. Namun, tidak kurang yg tertipu saat melihat dirinya lebih besar/tinggi krn memiliki tempat tinggal yg mewah (rumah besar). Padahal, awalnya manusia semua sama-sama hidup di atas hamparan tanah dan di bawah langit.
Dari ruang-ruang kecil (rumah) mereka dianjurkan untuk saling mengunjungi dan bersilaturrahim. Ketika mereka sudah tdk sanggup bersilaturahim "dari Door to Door" maka berbagai cara yg dilakukan; berupa reuni (kembali merajut tali kasih). Bahkan, perjanjian antara keluarga memilih suatu titik di alam ini (di luar rumah) untuk kembali merajut tali kasih diantara mereka.
Maka, rumah bersama yg sesungguhnya adalah alam raya yg beratapkan langit. krn rumah-rumah yg dibuat manusia adalah tempat-tempat yg membuat perbedaan di antara mereka. Mereka kadang saling mengukur perbedaan nilai/status sosial berdasarkan kadar ruang-ruang kecil (rumah) yg mereka buat sendiri.
Di sisi Allah, derajat kemuliaan diukur berdasarkan kualitas dan derajat ketakwaannya di titik/di posisi manapun di bumi ini dan di bawah langit manapun mereka berada. Wallahu a'lam...
--------
Ketika Dia (Allah) memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasa-Nya.
Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri padamu dan mendatangimu lewat kelembutan-Nya. (Ibnu Atha'illah)
Jika engkau berdoa memohon sesuatu, lalu engkau mendapakannya, maka Allah memberimu makrifat bahwa Dia Maha Baik.
Jika engkau memohon kepada-Nya, lalu tak kunjung terwujud, maka Dia hadir menyapamu dengan kelembutan-Nya memberimu makrifat bahwa Dia maha Kuasa.
Bukalah pandangan mata batinmu, niscaya engkau menyaksikan kehadiran-Nya dalam setiap untaian doamu. Wallahu a'lam.
--------
Ketika penyakit "Cinta Dunia" tengah melanda seseorang, maka standar "kepatutan" (asitinajang) tidak menjadi pertimbangan.
Petuah leluhur Bugis mengatakan: "Alai cedde'e risesena engkai mappedeceng. Nenniya sampeangngi Maegae risesena engkai makkasolang".
Inilah prinsip/asas "maslahat" dan "mafsadat" dalam kearifan lokal masyarakat Bugis. Masihkah ini bertahan atau sdh tergerus oleh persaingan yg kejam dan oleh hedonisme atau sistem kapitalisme?
---------
Diantara bukti benarnya iman seorang Mukmin adalah ketika ia mampu merasakan lembutnya sentuhan takdir Allah di setiap musibah dan nikmat.
-------
Hidup ini bukanlah untuk dikeluhkan. Andaikan mengeluh itu dapat menyelesaikan masalah, maka tentu org yg paling banyak mengeluh yg paling berbahagia. Akan tetapi, mengeluh hanyalah menambah daftar masalah.dan makin menjauhkan dari rasa bahagia, karena Tertipu oleh persepsi sendiri.
Yg menipu adalah persepsi yg keliru yg diyakini kebenarannya atau kebenaran yg diragukan. Pikiran keliru dan keraguan adalah hal yg banyak menyibukkan dan menyita energi dan waktu.
Ketika itulah agama hadir meluruskan persepsi yg keliru dan mengubah keraguan menjadi keyakinan yg tersimpul dalam kalimat "syahadat" yg menunjukkan keyakinannya tanpa sedikitpun keraguan. Dan, Inilah pondasi utama beragama Islam.
---------
Manusia acapkali mengerahkan energi dan waktunya tuk membangun argumen pembenaran, sehinga tersisa sedikit, bahkan kehabisan waktu dan energi tuk menyibukkan diri dgn kebenaran dan kejujuran",
--------
LAKSANA GARAM: Semua memaklumi bahwa bahan baku garam adalah air asin atau air laut. Tatkala ia berubah dari zat cair menjadi benda padat dengan tetap pada rasa asin itulah berubah nama menjadi garam. Garam memiliki banyak fungsi dan manfaat. Ketiadaan garam dalam sebuah menu makanan sering dicari karena keberadaannya menentukan kesempurnaan rasa, dan ketiadaan nya dipastikan menjadikan menu tertentu menjadi tdk sempurna. Tatkala kita hendak makan coto misalnya, garam hampir tdk pernah disebut namanya, krn seseorang tdk pernah menyebut "makan garam" kecuali jika ia tdk ada maka ia dicari. Betapapun sebuah masakan dibuat dengan sempurna tanpa garam, makanan tersebut tetap tdk sempurna rasanya. Orang lagi-lagi hanya menyebut coto, tdk garam. Demikian pula sayur, tdk disebut garam. Padahal, tanpa garam pada kedua masakan itu, rasanya tdk enak, kehadiran garam menentukan rasa. Dalam konteks kehidupan manusia, dalam kebersamaannya mungkin ada manusia yg tulus keberadaannya laksana garam, ia tdk diperhitungkan, tdk disebut, tetapi keberadaannya menentukan kesempurnaan kebersamaan dlm kelompok atau komunitas. Tatkala ia tdk ada, terasa betapa tdk sempurnanya kebersamaan. Terkadang keberadaannya tdk terlihat namun sangat jelas terasa dan menentukan rasa kebersamaan. Laksana garam dlm sebuah masakan coto, garam tdk terlihat tatkala ia larut dlm kebersamaan zat lain dlm air, garam tdk tampak lagi tapi terasa bahkan menentukan rasa. Dlm hidup ini terkadang org yg populer dan dielus-elus padahal perannya tdk maksimal. Sebaliknya, boleh jadi ada org yg tdk tampak dan tdk disebut-sebut, bahkan ia menyembunyikan kebaikannya, padahal ia tulus memberi makna, bahkan menentukan kesempurnaan hidup. Dengan demikian, jangan iri tatkala orang populer, sebab boleh jadi dgn jln hidup yg sunyi, Allah hendak menjaga dari riya yg justru merusak amal. Para wali Alllah beramal dan berikhtiar merahasiakan amal kebaikannya. Wallahu a'lam.
-------
Dunia adalah bayang-bayang yang terkadang menipu. Wujud segala sesuatu (selain Allah) laksana bayang pepohonan di atas air. Ia (semestinya) tidak dapat menghalangi perjalanan perahu di air tersebut.
Banyak orang tertipu, sehingga terhenti tatkala menatap bayang-bayang dunia, ia tidak melanjutkan perjalanan menuju Rabbnya. Terhentinya dan tidak sampai hamba kepada Rabbnya karena tertipu oleh bayang-bayang yang menghijab (merintangi) perjalanannya.
Manusia sibuk dan menghabiskan waktunya memikirkan bayang-bayang yang menipu. Ada manusia berlimpah materi duniawi atau orang papa namun ia memahami bahwa itu hanyalah ilusi sehingga mereka tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai tujuan (Rabbnya). Seperti halnya pula banyak orang kaya dan orang miskin terhenti dan hanya sibuk mengurusi bayang-bayang (dunia).
Hal ini senada firman Allah "Dan kehidupan dunia ini tidak lain, hanyalah kesenangan yang menipu" (Qs. al-Hadid: 20), Tidaklah merugi orang meraih kesenangannya selama ia tidak tertipu, sebaliknya, merugilah orang menghabiskan waktu dalam tipuan.
-------
Terkadang hidup yg kita keluhkan sesungguhnya adalah hidup yg diinginkan oleh orang lain. Seseorang sering mengeluhkan kendaraan miliknya yang tidak mewah, terkadang orang lain menginginkan keadaan itu, karena ia belum memilikinya. seseorang adakalanya mengeluhkan karena ia kelelahan berjalan kaki, justru keadaan itu diinginkan oleh orang yang tidak memiliki kaki dst.
Orang kadang mengeluhkan keadaan tempat tinggalnya yang dinilainya tidak mewah, justru keadaan itu diinginkan oleh orang yang tidak memiliki rumah sendiri, sehingga harus ngontrak. Mampu mengontrak sendiri rumah kadang menjadi keinginan bagi orang tertentu yg terpaksa numpang dirumah orang lain dalam keadaan terus merasakan beban dan berat hati.
Hati yang tidak pernah bersyukur akan terus menderita walaupun keadaannya sudah layak menurut orang lain. Sebaliknya, hati yang terus memanjatkan syukur akan terus merasakan sebuahk kebahagiaan yang mengakrabi hidupnya. Allah mengingatkan: "Jika kalian bersyukur niscaya Aku tambahkan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu ingkar (kufur nikmat), ingatlah, sesungguhnya azabKu amat pedih".
--------
Ragam ujian merupakan hamparan anugerah. Variasi ujian dari Allah laksana hamparan permadani yg dipenuhi karunia Ilahi bagi yg duduk di atasnya. Sebagaimana halnya org yg duduk di atas permadani raja, ia tentu mendapatkan kenikmatan yang diberikan oleh raja kepadanya.
Ujian dari Allah berupa kesulitan membuat seorang hamba selalu hadir bersama dengan-Nya, dan Dia mendudukkannya di permadani ketulusan. Pada saat hadir itulah, hamba akan diberikan karunia rabbani dan embusan kasih dan sayang-Nya.
Sebagaimana kata Ibn Atha'illah, "jika kau mengharapkan datangnya karunia, luruskan rasa papa dan butuh pada dirimu, karena " Sedekah hanya diberikan kepada yg fakir". (Qs. al-Taubah: 60).
Di hadapan manusia kita dianjurkan mencontoh sifat-Nya, yaitu "memberi" (apa yang bermanfaat, berupa ilmu, harta, dll,), namun di hadapan Allah kita semestinya menjadi papa dan fakir agar kita berhak mendapat limpahan anugerah dan kasih-Nya. Wallahu a lam.
--------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar