Sahyul Blog

Senin, 16 Desember 2019

Naskah Pak Yusuf 5

Ketergantungan kepada Allah adalah hakikat hamba. Sedangkan munculnya sebab-sebab ketergantungan adalah pengingat akan hakikat dirinya yang ia lupakan itu.

Esensi "Allah al-Shamad" (Qs. al-Ikhlash : 2) adalah menjadikan Rabb satu-satu-Nya tempat begantung, dan tidak ada selain-Nya. Banyak manusia yang lupa atau tidak tahu akan hakikat dirinya, terutama ketika ia sedang diberi nikmat kesehatan dan kekayaan. Bahkan tidak hanya lupa akan hakikat diri mereka, melainkan juga melupakan Tuhannya.

Allah menurunkan kepadanya "sebab-sebab ketergantungan kepada-Nya" agar mereka kembali sadar dan ingat. Sebab-sebab ketergantungan kepada Allah itu bisa berupa penyakit, khawatir, rasa lapar, haus, kegagalan, dsb. Saat sakit, tak jarang kita menyaksikan mushaf Alquran diletakkan di dekatnya atau dibaca, tasbih di tangannya, Saat khawatir ia terus bergantung mengaharap perlindungan dari Allah. Seperti itu pula saat kekurangan (miskin) ia lebih banyak menyadari kelemahannya dan menjadi tawaduk. Saat menerima sebab-sebab ketergantungan itu, berarti Allah sedang mengirim suatu peringatan untuk mendekat dan bergantung kepada-Nya.

----------

Salah satu ciri orang beriman adalah bersikap optimis. Optimisme adalah salah satu makna syahadat (yang menandai seseorang secara formal masuk Islam). Oleh karena itu, optimisme adalah sebuah keniscayan bagi yang menghayati makna syahadat. Kualitas iman seseorang berbanding lurus dengan tingginya optimisme mengharap rahmat Allah.

Orang yang bersikap optimis meyakini rahmat Allah dan sistem Allah (sunnatullah). Optimisme, selain menjadi a road to success, juga memberikan sistem kerja tubuh yang memberikan imunitas untuk menghadapi berbagai keteraumaan masa lalu. Tubuh akan bekerja menghasilkan energi positif dan meningkatkan kesehatan tubuh.

Hidup optimis adalah menatap masa depan dengan baik sangka. Sekali-sekali menoleh ke belakang untuk belajar dari sejarah dalam rangka menentukan langkah yang lebih baik dan menghindari penyebab-penyebab kegagalan. Mendalami makna kesuksesan yg lebih hakiki.

Menoleh ke sejarah bukan berarti melakukan langkah mundur, melainkan memastikan langkah yang tidak keliru menjadi pilihan agar tdk jatuh jurang kegagalan yg sama. Larangan bersikap pesimis sesungguhnya juga larangan dalam Islam "janganlah berputus asa (bersikap pesimis) dari rahmat Allah, tiadalah berputus asa (dari rahmat Allah) kecuali orang-orangb yang zalim".

-------

Keinginanmu terhadap kekalnya sesuatu selain Allah mmenjadi bukti bahwa kau belum bertemu dengan-Nya. Kerisauanmu lantaran kehilangan sesuatu selain Allah menjadi bukti bahwa kau belum sampai kepada-Nya. (Kurang lebih demikian salah satu kalimat hikmah Ibnu Atha'illah dalam ah-Hikam).

Tidak ingin kehilangan sesuatu yg disenangi adalah keadaan batin yg lumrah dan manusiawi. Akan tetapi, kadang justru dengan hilangnya sesuatu itu karena Allah hendak menghilangkan beban dan rintangan yang menghalangi untuk sampai kepada-Nya. Hilangnya sesuatu kadang menjadi cara Allah memberitahukan bahwa kita tidak memiliki dan menguasainya. "La haula wa la quwwata iila billah" adalah kalimat yang menghimpun makna tersebut sekaligus menegaskan bahwa kekuatan dan kemilikan kita. Itu hanyalah titipan dari-Nya dan suatu saat akan diambil oleh Pemiliknya.

Rasa kepemilikan yang berlebihan mengakibatkan nafsu ingin menguasainya. Segala sesuatu yang kita anggap milik dan dalam penguasaan kita sesungguhnya bukanlah milik kita. Manusia terkadang sulit memberi sesuatu kepada yang lain karena mereka merasa memilki dan menguasai, namun saat kita sadar, apapun yg kita miliki itu seluruhnya berasal dari pemberian. Jangankan segala sesuatu itu, diri kita pun total dalam kuasa dan genggaman-Nya. "Inna lillah wa inna ilaihii rajiuun" adalah kalimat yang menghimpun makna tersebut.

--------

Cara Mensucikan jiwa yang efektif adalah memberi pertolongan kepada orang-orang yang tak berdaya (lemah), yang tidak mampu membalas pertolongan kita. Hal itu bertujuan agar balasan yang sesungguhnya hanya diharapkan datangnya dari Rabb (Allah) yang mencipta dan memelihara. Saat memberi pertolongan kepada orang yang lemah, saat itu mengajarkan ketulusan. Berbeda halnya ketika memberi kepada orang berpunya, terbetik harapan yang lebih besar agar ia memberikan yang lebih baik atau minimal setimpal.

Mengharapkan balasan kepada selain Allah adalah bukti ketidaktulusan ubudiyah. Mengapa Allah tidak segera memberikan balasan di dunia tatkala membantu yang lemah dan tak berdaya? Boleh jadi, itu karena balasan rahmat dan kebaikan yang akan diberikan, dunia tidak mampu menampungnya karena ketulusan pelakunya. Atau, karena dunia bukan tempat yang tepat untuk menerima besarnya balasan, sebab dunia bersifat sementara, sedangkan Allah menghendaki balasan kebaikan yang kekal (lama).

--------

Tawakkal dengan "zero"

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW., beliau bersabda, "akan masuk surga orang-orang yg hatinya seperti hati burung" (HR. Muslim, No. Hadis 2840)

Sebagian ahli hadis mengatakan "berhati burung" adalah orang-orang bertawakal. Sebab burung tidak mempunyai investasi bahan makanan, ia hanya bermodal tawakkal keluar dari tempat bertenggernya di pagi hari dalam keadaaan perutnya kosong untuk menjemput rezekinya. Pulang di sore hari dlm keadaan kenyang. Ada yg memaknai bahwa "berhati burung" adalah orang hatinya lembut.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tanda penghuni syurga, yaitu berhati penuh tawakkal dan berhati lembut berbingkai kasih sayang.

--------

Fokus pada hati (batin) amal (lahir)

Dari Abi Hurairah r.a. Dia mengatakan bhw Rasulullah SAW bersabda, "sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan rupa kalian, tetapi Allah hati dan amal kalian".(HR. Muslim).

Allah menilai hati dan amal, karena hati merupakan tempat terbitnya cahaya Iman dan takwa. Sedangkan iman dan takwa penentu kemuliaan seseorang. Dari hatilah lahir amal saleh yg berawal dari niat yg lurus. Sedangkan Fisik dan rupa adalah bentukan Allah, sehingga manusia tdk dibebani tanggung jawab mengubahnya, bahkan dilarang mengubahnya secara tdk wajar kecuali memeliharanya secara wajar saja.

Setiap orang, apapun keadaannya jika masih berfungsi akalnya maka tidak ada alasan tidak bersyukur. Jika fisik dan rupa sempurna maka bersyukurlah. Jika tdk, bersyukurlah masih dianugerahi hati yg beriman dan bertakwa. Dan hal itu sdh cukup menjadikan mulia di sisi Allah di dunia dan di akhirat. Lebih berbahagia dan bersyukur apabila dianugerahi fisik dan rupa yg sempurna serta hati dan amal yg baik.

--------

Hamba Allah yg dikasihi-Nya ia beriman dgn totalitas lahir batin. Dengan imannya, ia mampu melihat lembutnya takdir. Ketika ia diuji apapun bentuknya ia mampu merasakan sapaan kasih Tuhannya padanya. Maka, ia mendekat pada-Nya.

------





Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

©copyright Sahyul Blog 2019 - Designed By Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates