Sahyul Blog

Senin, 16 Desember 2019

Naskah Pak Yusuf 7

KEBAIKAN

Dalam salah satu susunan redaksi Alquran, Allah mendahulukan "kebaikan" daripada "ketakwaan" tatkala memerintahkan untuk tolong menolong. Allah SWT. berfirman:

ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/oermusuhan....". [al-Mâidah/5 : 2]

Semua orang ingin menjadi baik dan berharap berbuah kebaikan. Karena itu, dalam pesan leluhur orang Bugis: "sappai decengnge, pogaui decengnge, pakkawarui decengnge, majeppu deceng tu polena". Kira-kira maknanya begini: "carilah kebaikan, kerjakanlah kebaikan, fokuslah pada kebaikan. Maka, sesungguhnya kebaikan pulalah hasilnya".

Balasan kebaikan itu tidak pernah tertukar dengan kejahatan. Jika Anda berbuat baik hari ini, lalu terasa tiba-tiba mendapatkan perlakuan jahat dari orang lain. Percayalah, itu bukan balasannya. Ada banyak kemungkinan. Mungkin ada kejahatan lain yang Allah ingatkan, Anda sudah lupa sedang Allah tidak lupa. Dan, Allah hendak menambah dan menyempurnakan kebaikanmu dengan mengingatkan kesalahanmu yang lalu agar Anda bertobat lalu memperbaiki diri sehingga Anda semakin baik dan bertambah sempurna dalam kebaikan.

Kebaikanmu tidak selalu dibalas dengan kebaikan serupa, seoerti yang Anda yang inginkan, pada waktu yang Anda harapkan, atau dari orang tertentu yang Anda pernah beri kebaikan. Tidak begitu! Allah menatap setiap kebaikan yang Anda niatkan dan kerjakan, itu sudah terekam dalam catatan yang rapih, akurat, dan bebas virus. Kebaikanmu pasti dibalas, bahkan lebih baik daripada kebaikanmu itu, pada waktu yang tepat, dan dari orang baik yang Allah pilih untuk Anda.

Tak perlu bersedih apabila Anda berbuat baik lalu diuji sejenak dengan hal yang tidak menyenangkan. Ujian adakalanya berupa nikmat untuk mengevaluasi tingkat kualitas syukurmu. Atau menguji dengan musibah untuk mengukur kualitas sabarmu. Syukur dan sabar adalah indikator tingkat penghambaan dan kepasrahan hambaNya. Justru, yang perlu diwaspadai adalah, jika Anda terus mendapatkan nikmat Allah, nikmat makin bertambah dalam hidup ini, sedangkan maksiat dan dosa makin menjadi-jadi. Waspailah istidraj.

Jika Anda orang beriman dan percaya adanya hari pembalasan, maka kebaikanmu bukan hanya dibalas dengan kebaikan yang setimpal. Bahkan dilipatgandakan. Saat itulah Anda berandai-andai, " kalau aku tahu hal ini dahulu (di dunia), aku pasti mohon agar kebaikanku hanyalah dibalas di akhirat. Ternyata, balasan yang paling sempurna hanya dari Allah di akhirat. Balasan dari Allah paling nikmat, dilipatgandakan pula.

Anda akan berkata: "Andai kutau, maka aku tak pernah terganggu berharap balasan dari makhluk di dunia (dahulu). Aku fokus saja berniat baik, berbuat baik, dan berprasangka baik saja, sampai seluruh waktuku penuh dengan kebaikan. Ternyata, Aku juga tertipu oleh dunia. Kusangka kebaikan yang kuterima itu karena balasan atas kebaikan yang aku lakukan". Tapi....

Ternyata, Itu rahmat Allah sekaligus ujian dari Nya. Padahal, yaumul jaza' yaitu hari pembalasan belum tiba, hari pembalasan yang sempurna belum tiba, riwayat hidupku masih berproses. Entah husnul khatimah atau su'ul khotimah. Yang pasti semua orang (saya, anda, dia, mereka, dan kita, manusia pelaku kejahatan pun, apalagi pelaku kebaikan) semua berharap husnul khatimah. Kita berikhtiar untuk segala sesuatu mengawalinya dengan baik, menjalani dengan baik, semoga berakhir oula dengan baik serta dicatat sebagai kebaikan

---------

KEBAIKAN

Dalam salah satu susunan redaksi Alquran, Allah mendahulukan "kebaikan" daripada "ketakwaan" tatkala memerintahkan untuk tolong menolong. Allah SWT. berfirman:

ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran/oermusuhan....". [al-Mâidah/5 : 2]

Semua orang ingin menjadi baik dan berharap berbuah kebaikan. Karena itu, dalam pesan leluhur orang Bugis: "sappai decengnge, pogaui decengnge, pakkawarui decengnge, majeppu deceng tu polena". Kira-kira maknanya begini: "carilah kebaikan, kerjakanlah kebaikan, fokuslah pada kebaikan. Maka, sesungguhnya kebaikan pulalah hasilnya".

Balasan kebaikan itu tidak pernah tertukar dengan kejahatan. Jika Anda berbuat baik hari ini, lalu terasa tiba-tiba mendapatkan perlakuan jahat dari orang lain. Percayalah, itu bukan balasannya. Ada banyak kemungkinan. Mungkin ada kejahatan lain yang Allah ingatkan, Anda sudah lupa sedang Allah tidak lupa. Dan, Allah hendak menambah dan menyempurnakan kebaikanmu dengan mengingatkan kesalahanmu yang lalu agar Anda bertobat lalu memperbaiki diri sehingga Anda semakin baik dan bertambah sempurna dalam kebaikan.

Kebaikanmu tidak selalu dibalas dengan kebaikan serupa, seoerti yang Anda yang inginkan, pada waktu yang Anda harapkan, atau dari orang tertentu yang Anda pernah beri kebaikan. Tidak begitu! Allah menatap setiap kebaikan yang Anda niatkan dan kerjakan, itu sudah terekam dalam catatan yang rapih, akurat, dan bebas virus. Kebaikanmu pasti dibalas, bahkan lebih baik daripada kebaikanmu itu, pada waktu yang tepat, dan dari orang baik yang Allah pilih untuk Anda.

Tak perlu bersedih apabila Anda berbuat baik lalu diuji sejenak dengan hal yang tidak menyenangkan. Ujian adakalanya berupa nikmat untuk mengevaluasi tingkat kualitas syukurmu. Atau menguji dengan musibah untuk mengukur kualitas sabarmu. Syukur dan sabar adalah indikator tingkat penghambaan dan kepasrahan hambaNya. Justru, yang perlu diwaspadai adalah, jika Anda terus mendapatkan nikmat Allah, nikmat makin bertambah dalam hidup ini, sedangkan maksiat dan dosa makin menjadi-jadi. Waspailah istidraj.

Jika Anda orang beriman dan percaya adanya hari pembalasan, maka kebaikanmu bukan hanya dibalas dengan kebaikan yang setimpal. Bahkan dilipatgandakan. Saat itulah Anda berandai-andai, " kalau aku tahu hal ini dahulu (di dunia), aku pasti mohon agar kebaikanku hanyalah dibalas di akhirat. Ternyata, balasan yang paling sempurna hanya dari Allah di akhirat. Balasan dari Allah paling nikmat, dilipatgandakan pula.

Anda akan berkata: "Andai kutau, maka aku tak pernah terganggu berharap balasan dari makhluk di dunia (dahulu). Aku fokus saja berniat baik, berbuat baik, dan berprasangka baik saja, sampai seluruh waktuku penuh dengan kebaikan. Ternyata, Aku juga tertipu oleh dunia. Kusangka kebaikan yang kuterima itu karena balasan atas kebaikan yang aku lakukan". Tapi....

Ternyata, Itu rahmat Allah sekaligus ujian dari Nya. Padahal, yaumul jaza' yaitu hari pembalasan belum tiba, hari pembalasan yang sempurna belum tiba, riwayat hidupku masih berproses. Entah husnul khatimah atau su'ul khotimah. Yang pasti semua orang (saya, anda, dia, mereka, dan kita, manusia pelaku kejahatan pun, apalagi pelaku kebaikan) semua berharap husnul khatimah. Kita berikhtiar untuk segala sesuatu mengawalinya dengan baik, menjalani dengan baik, semoga berakhir oula dengan baik serta dicatat sebagai kebaikan

---------

KEJUJURAN

Kejujuran merupakan kebutuhan semua manusia. Itu sebabnya, pembohong atau penipu apabila dibohongi atau ditipu dan mengetahui dirinya dibohongi dan ditipu, pasti juga mengkomplain bahkan marah, karena kebutuhannya dinafikan. Apalagi, orang jujur dibohoongi dan ditipu, maka tentu sangat merasakan dampak buruknya. Meski semua orang senang diperlakukan dengan jujur, namun tidak selalu mudah merawat kejujuran. Begitu pula kebohongan, kadang perlu skill tingkat tinggi. Repotnya, kejujuran tanpa skill seringkali dinilai keluguan, kebodohan, kaku, kurang pengalaman dll. Namun, bagaimana pun tetaplah berusaha selalu jujur agar lebih dekat dengan hidup yang berkah.

Saya mengutip pernyataan salah seorang kyai di tanah air ini "kejujuran itu berkah, kebohongan itu musibah". Kalimat ini saya maknai antara lain, bahwa salah satu syarat yang mesti terpenuhi untuk menghadirkan berkah adalah "kejujuran". Sedangkan mencegah musibah dengan menghindari kebohongan. Seringkali terdengar ketika terjadi gempa bumi, tsunami, banjir, kebakaran, kematian, kehilangan harta benda itu kemudian disebut sebagai musibah. Tapi, hilangnya kejujuran jarang terdengar disebut musibah. Karena, sebagian orang yang berbohong menyebutnya sebagai "strategi".

Beberapa sumber nilai selalu mengajarkan kejujuran, baik budaya maupun agama. Dari segi budaya misalnya, pepatah leluhur orang Bugis mengatakan: "Dua kuala sappo: belona kanukue, unganna panasae". Kira-kira maknanya demikian: "dua (nilai) yang kujadikan pagar/prisai: hiasan kuku dan buah bunga nangka. Pertama, hiasan kuku (pacci) atau paccing yang bermakna kesucian, ketulusan. Kedua, Nangka (disebut juga lempu) sebagai simbol lempu' yang berarti jujur atau kejujuran.

Islam - tentu juga agama selainnya - sangat menekankan kejujuran dan melarang keras kebohongan. Banyak ayat Alquran dan hadis Rasulullah SAW yang menegaskan hal tersebut.Salah satu diantaranya adalah QS at-Taubah ayat 119, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)." Ayat ini menegaskan bahwa ketakwaan dan kejujuran itu saling berkaitan.

Jujur itu sifat rasul. Seperti diketahui, ada empat sifat utama yang wajib dimiliki oleh para rasul. Salah satu diantaranya adalah shiddiq (benar atau jujur). Lawannya adalah dusta.
“Dusta itu bukan sifat orang yang baik/takwa, mekainkan sifat orang yang jahat. Karena itu, orang tua, pendidik, dan pemimpin harus jujur. Hal itu sangat penting untuk melahirkan generasi mendatang yang lebih baik, dan pemimpin umat yang jujur dan amanah,”

Salah satu hadis Rasulullah yang menekankan pentingnya kejujuran dan mengingatkan bahaya kebohongan. “Berlaku jujurlah, sesunguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. Dan, seseorang yang senantiasa berlaku jujur akan tercatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Jauhilah dusta. Sesungguhnya dusta akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Seseorang yang sering berdusta akan tercatat disisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR Muslim).

Dari hadis ini, jelaslah bahwa sumber kebaikan itu adalah kejujuran. “Kejujuran akan mengantarkan seseorang masuk surga di akhirat kelak. Salah satu pintu surga adalah Pintu Kejujuran. “Hendaklah kalian menjadi orang yang jujur (shiddiq). Sebab, Shiddiq merupakan salah satu pintu di surga. Hendaklah kalian menjauhi dusta, sebab dusta merupakan salah satu pintu di neraka,” Demikian salah satu hadis Rasulullah SAW.

Jujur itu mahal, bahkan tidak dapat ditakar. Jujur itu indah. Jujur itu tinggi. Jujur itu mulia,” sedangkan dusta merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Karena itu, harus kita jauhi sejauh-jauhnya,”. Kemunafikan itu juga masuk melalui melalui lorong kedustaaan. Dusta itu sumber kemunafikan. “Rasulullah SAW menegaskan, ada tiga tanda orang munafik. Salah satunya adalah kalau berbicara, dia berdusta,”. Perlu diwaspadai setiap kebohongan, baik kebohongan dalam skala kecil apalagi kebohongan yang sistemik.kebohongan yang sistemik dosanya juga berdampak sistemik.

---------


Share This

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

©copyright Sahyul Blog 2019 - Designed By Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates